Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi
Perpustakaan Digital
Oleh
Bhima :
Malcolm :
Muhamad Ridwan Putra
: 1501156383
Joel :
ABSTRAK
Perpustakaan sebagai
sumber sarana tempat penyimpanan informasi dan penelitian. Hal ini dapat
dilihat dari perkembangan dunia teknologi yang mengharuskan agar terciptanya
perpustakaan modern. Perpustakaan digital sebagai tempat penyimpanan koleksi
berupa format digital dan tempat pertukaran infomsai melalui jaringan internet.
Tidak seperti halnya perpustakaan konvensional, perpustakaan digital melebihi
banyak keunggulan yang bisa memudahkan orang dalam mendapatkan informasi.
Pembangunan perpustakaan digital tidak luput dari masalah-masalah yang
menghambatnya.
Kata Kunci : perpustakaan,
perpustakaan digital, masalah pembangunan perpustakaan digital
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
“The library is a growing
organism”. Demikianlah bunyi dalil kelima Ranganathan yang digunakan untuk
mencitrakan perpustakaan. Bagi Keren Barner (2011) dapat dikaitkan dengan
gagasan yang dicetuskan oleh Charles Darwin (teori revolusi), yakni cara
pandang naturalis yang meyakini bahwa makhluk hidup dapat bertahan serta
berhasil melalui seleksi alam bila ia mampu beradaptasi dengan perubahan
lingkungan.
Perpustakaan sebagai
tempat yang terus berubah sepanjang perjalanan sejarah, tak luput bagi para
pustakawan untuk menghadirkan terobosan baru. Pendit (2009) menjelaskan bahwa perpustakaan
adalah institusi yang terus mengalami perubahan, adaptif dengan perkembangan
teknologi, kendati
relatif tak mengalami banyak perubahan tradisi aktivitas pokoknya sebagai penghimpun,
penyimpan, serta penyedia rekaman pengetahuan.
Perpustakaan Digital atau
yang bisa kita kenal Digital Library atau Virtual Library adalah suatu
institusi yang menyimpan berbagai macam koleksi berupa digital secara
terstruktur yang dapat disajikan melalui media internet. Dengan adanya
perpustakaan digital yang bisa kita dapatkan dengan cara yang dinamis,
diharapkan pendidikan yang ada pada masa sekarang ini bisa berkembang juga.
1.1 Ruang Lingkup
1. Memberikan pemahaman
tentang perpustakaan digital
2. Menjelaskan masalah
dalam mengembangkan perpustakaan digital
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan :
·
Menjelaskan
pengertian perpustakaan digital
·
Menjelaskan
perbedaan perpustakaan konvensional dan perpustakaan digital beserta
kelebihannya
·
Menguraikan
masalah dalam mengembangkan perpustakaan digital.
Manfaat
:
Mengetahui pentingnya
perpustakaan digital, manfaatnya, kelebihannya
1.3 Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1.
Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media
internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam
penyusunan penulisan ini.
2.
Metode Analisis
Pada metode ini penulis menganalisa dari apa yang
sudah dicari melalui internet.
1.4 Sistematika Penulisan
BAB I : Pendahuluan
Dalam bab ini
diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang terdiri dari
Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi Penelitian, dan
Sistematika Penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Dalam bab ini
menguraikan beberapa teori atau konsep yang melandasi hal-hal dalam penelitian
ini yang didapatkan melalui internet ataupun buku.
BAB III : Pembahasan
Dalam bab ini
menjelaskan bagaimana manfaat, tujuan serta masalah yang dihadapi dalam
mengembangkan perpustakaan digital.
BAB IV :
Penutup
Dalam bab ini berisikan kesimpulan dan beberapa
saran
BAB
II
LANDASAN
TEORI
3.1 Pengertian Perpustakaan
Menurut penjelasan ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ) “Perpustakaan
diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan
terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang
digunakan pembaca bukan untuk dijual”.
Menurut RUU Perpustakaan pada Bab I pasal 1
menyatakan bahwa “Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan
tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan
intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan”.
3.2 Sejarah
Perpustakaan Digital
Gagasan
yang muncul pertama kali sebagai dasar konsep perpustakaan digital muncul pada
bulan Juli tahun 1945 oleh Vannevar Bush. Beliau mengeluhkan penyimpanan
informasi manual yang menghambat akses terhadap penelitian yang sudah
dipublikasikan. Untuk itu, Bush mengajukan ide untuk membuat catatan dan
perpustakaan pribadi (untuk buku, rekaman/dokumentasi, dan komunikasi) yang
termekanisasi.
Selama
dekade 1950-an dan 1960-an keterbukaan akses terhadap koleksi perpustakaan
terus diusahakan oleh peneliti, pustakawan, dan pihak-pihak lain, tetapi
teknologi yang ada belum cukup menunjang.
Pada
awal 1980-an fungsi-fungsi perpustakaan telah diotomasi melalui perangkat
komputer, namun hanya pada lembaga-lembaga besar mengingat biaya investasi yang
tinggi. Misalnya pada Library of Congress di Amerika yang telah
mengimplementasikan sistem tampilan dokumen elektronik (electronic document
imaging systems) untuk kepentingan penelitian dan operasional perpustakaan.Dari
sudut pandang pengguna, komputer bukanlah bagian dari fasilitas manajemen
perpustakaan melainkan hanya pelayanan untuk digunakan staf perpustakaan.
Pada
awal 1990-an hampir seluruh fungsi perpustakaan ditunjang dengan otomasi dalam
jumlah dan cara tertentu. Fungsi-fungsi tersebut antara lain pembuatan katalog,
sirkulasi, peminjaman antar perpustakaan, pengelolaan jurnal, penambahan
koleksi, kontrol keuangan, manajemen koleksi yang sudah ada, dan data pengguna.
Dalam periode ini komunikasi data secara elektronik dari satu perpustakaan ke
perpustakaan lainnya semakin berkembang dengan cepat. Pada tahun 1994, Library
of Congress mengeluarkan rancangan National Digital Library dengan menggunakan
tampilan dokumen elektronik, penyimpanan dan penelusuran teks secara
elektronik, dan teknologi lainnya terhadap koleksi cetak dan non-cetak
tertentu. Selanjutnya pada September 1995, enam universitas di Amerika diberi
dana untuk melakukan proyek penelitian perpustakaan digital.
2.2 Pengertian
Perpustakaan Digital menurut para ahli
Menurut Arms (2000), “Perpustakaan
digital adalah suatu koleksi informasi digital yang disusun secara sistematis
yang disajikan dan dapat diakses menggunakan jaringan computer”.
Menurut Lesk (1997):
“Perpustakaan Digital adalah koleksi informasi digital yang terorganisir. Ia
merupakan kumpulan berbagai kombinasi informasi, arsip bersejarah berupa
digital terstruktur yang disajikan dengan jaringan komputer”.
Menurut
Pendit (2009) “Perpustakaan adalah institusi yang terus mengalami perubahan,
adaptif dengan perkembangan teknologi, kendati relatif tak mengalami banyak
perubahan tradisi aktivitas pokoknya sebagai penghimpun, penyimpan, serta
penyedia rekaman pengetahuan”.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Perpustakaan Digital (Digital
Library)
Pendit (2008: 3) menerjemahkan definisi
perpustakaan digital dari DFL sebagai berikut :
“Perpustakaan digital adalah berbagai
organisasi yang menyediakan sumberdaya, termasuk pegawai yang terlatih khusus,
untuk memilih, mengatur, menawarkan akses, memahami, menyebarkan, menjaga
integritas, dan memastikan keutuhan karya digital, sedemikian rupa sehingga
koleksi tersedia dan terjangkau secara ekonomis oleh sebuah atau sekumpulan
komunitas yang membutuhkannya.”
Berdasarkan penjelasan yang dipaparkan
oleh Pendit, penulis menyimpulkan perpustakaan digital adalah suatu institusi
yang berisikan kumpulan-kumpulan informasi dari berbagai sumber berupa digital
yang memudahkan mereka dalam mencari informasi yang dibutuhkan.
kita bisa mengetahui bahwa dengan perpustakaan
digital, kunjungan mereka (baik kunjngan ke lokasi fisik maupun ke situs
internet) bisa lebih efektif dan efisien. Namun, bagaimana koleksi digital itu
dimanfaatkan, semua tergantung dari manusia itu sendiri apakah akan
memanfaatkan fasilitas perpustakaan digital atau tidak. Karena masih banyak
dari kita yang tidak mengerti akan teknologi informasi. Dan tergantung
bagaimana informasi tersebut dibuat, diorganisasikan dan disajikan sehingga
bisa lebih dimengerti oleh mereka yang buta akan teknologi informasi.
Selain itu, perpustakaan digital bukan
hanya sebagai manajemen pengetahuan dan informasi, tetapi juga sebagai sumber
informasi yang mulai diharapkan untuk menjalankan peranan dalam mengembangkan
pendidikan.
3.2 Jenis-jenis perpustakaan digital
1. Full Text.
·
Pengolahan
dan manipulasi data lebih mudah
·
Ukuran
data leibh kecil
·
Data
terformat dalam bentuk SGML (Standard Generalized Markup Language)
2. Page Image.
·
Sesuai
untuk system Browsing
·
Tidak
memerlukan font karena berupa file image
3.3 Perpustakaan Tradisional dan
Perpustakaan Digital
“Dalam arti tradisional, perpustakaan
adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai
koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai
sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau
institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli
sekian banyak buku atas biaya sendiri.” Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
perpustakaan ialah suatu institusi yang menyimpan berbagai koleksi yang berupa
non digital (cetak).
Kelebihan Perpustakaan Digital daripada
Perpustakaan Konvensional
·
Menghemat
ruangan
Dengan koleksi buku-buku berupa digital
maka tidak membutuhkan tempat yang luas untuk menaruh buku-buku koleksi seperti
di perpustakaan konvensional.
·
Memiliki
beberapa akses
Pada perpustakaan digital tidak
mempengaruhi adanya keterbatasan dalam menggunakan buku-buku koleksi yang
tersedia. Mereka bisa menggunakan koleksi yang mereka inginkan dalam waktu yang
bersamaan. Sehingga apabila buku yang mereka inginkan digunakan oleh orang lain
maka mereka bisa juga mengunduh yang sama. Sedangkan pada perpustakaan
konvensional, apabila buku yang mereka ingin pinjam maka mereka harus menunggu
sampai batas waktu pinjam buku tersebut telah habis.
·
Tidak
adanya batasan Ruang dan Waktu
Dengan perpustakaan digital setiap
orang bisa mengunduh dimana saja dan kapan saja dengan jaringan internet.
·
Memiliki
bentuk menarik
Pada perpustakaan digital dapat
memiliki bentuk tidak hanya satu saja (gambar atau tulisan saja) dalam
penyajiannya. Dikarenakan apabila orang tersebut belum memahami maksud yang
terdapat pada buku tersebut, maka bisa dijelaskan dengan beberapa fungsi
(video, gambar, tulisan). Contoh : pada proses menyalanya bola lampu, dengan
menjelaskan aliran-aliran listrik yang mengalir dan tahap-tahap agar tidak
terjadi konsleting).
·
Biaya
yang murah
Dengan hanya mengunduh ebook maka biaya
yang dihasilkan cukup murah bila dibandingkan membeli buku yang diinginkan
karena buku tersebut dipinjam oleh orang lain.
3.4 faktor pendukung perkembangan
perpustakaan digital
1. Pada perpustakaan konvensional tidak
adanya sistem komputerisasi yang dapat mempermudah seseorang menemukan buku,
mengunduh, membaca bersamaan tanpa harus menunggu proses peminjaman selesai.
2. Adanya keterbatasan ruang sehingga
tidak semua koleksi bisa didapatkan pada perpustakaan konvensional
3. Semakin banyaknya akses internet
(hotspot) diberbagai tempat sehingga memudahkan mereka dalam menemukan
informasi.
4. Memiliki sistem database sehingga
koleksi-koleksi tersusun dengan baik.
3.5 Faktor penghambat perkembangan
perpustakaan digital
Menurut Surachman (2011) ada beberapa
factor yang bisa menghambat perkembangan perpustakaan digital yaitu :
1) Masalah Interoperabilitas
Menurut Pendit (2008: 146-147), dari
sisi pandang komputerisasi, interoperabilitas merupakan salah satu hal yang
paling sulit dalam upaya mengembangkan perpustakaan digital.
Pendit (2008: 149), interoperabilitas
juga mengandung dimensi sosial yang dimaknai sebagai kehendak untuk bekerja
sama antarpengelola perpustakaan digital dan aspek-aspek lain yang menyangkut pengguna.
2) Soal Berkelanjutan
3) Masalah Kebijakan
4) Masalah Teknis lainnya
Menurut Pendit (2009: 62-63) beberapa
masalah yang dihadapi pihak pengelola bila mengandalkan penyediaan akses bagi
pengguna untuk memperoleh informasi antara lain:
• Sifat isi atau kandungan informasi yang
semakin bersifat sementara sebab nyaris tak ada sarana untuk memastikan bahwa
dokumen digital yang pernah diakses masih dapat diperoleh pada masa kini dan
akan datang, karena ada kecenderungan perubahan pada pangkalan data yang pernah
diakses atau karena perpustakaan tak lagi punya hak untuk menyediakan akses
pada pangkalan data yang dilanggan.
• Hubungan antara perpustakaan sebagai
penyedia akses dengan pemilik pangkalan data merupakan hubungan antara pelanggan
dan penyedia, yang mana ada ketentuan lisensi dan konsekuensi secara finansial.
Hubungan itupun bersifat sementara, dalam rentang waktu tertentu sesuai kesepakatan
antara dua belah pihak yang juga disepadankan dengan jumlah anggaran. Dalam hal
ini, perpustakaan yang menyediakan akses pada ribuan artikel jurnal elektronik
tidaklah berarti memilikinya, hal itu hanya bersifat sementara. Bila masa hak
penyediaan akses berakhir, maka berakhir pula periode “kepemilikan atas koleksi
digital” tersebut.
• Pengelola perpustakaan tak dapat
serta-merta mengambil dan menyimpan dokumen berupa jurnal dan buku elektronik
dari pangkalan data yang dilanggan, karena ada ketentuan hak atas kekayaan
intelektual berupa lisensi yang secara penuh dimiliki oleh pemilik pangkalan data,
sedangkan perpustakaan hanya dapat “membeli” lisensi tersebut dalam jangka
waktu tertentu. Apabila masa berlangganan berakhir, maka institusi perpustakaan
dapat dipermasalahkan secara hukum apabila masih menyediakan dokumen tersebut.
3.6 Masalah pada perpustakaan digital
1. Biaya
Suatu perubahan pastilah tidak hanya
membutuhkan inovasi yang bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda tetapi juga
membutuhkan ivestasi untuk mewujudkan inovasi tersebut.
2.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dengan adanya perpustakaan digital tidak memerlukan
banyak ruang untuk menyimpan berbagai jenis koleksi. Dengan format digital
memudahkan setiap orang dalam mengaksesnya. Bisa mendapatkan informasi yang
mereka butuhkan kapan saja dan dimana saja dengan menggunakan jaringan
internet.
4.2 Saran
Perpustakaan digital harus diperkenalkan lebih jauh
ke masyarakat agar penggunaan perpustakaan digital bisa lebih efektif sehingga
bisa menambah pengetahuan pada masyarakat. Adanya sarana untuk menjadi daya
tarik terhadap anak-anak sehingga anak-anak senang berkunjung ke perpustakaan
digital
DAFTAR
PUSTAKA
Barner, Keren. 2011.
The Library is a Growing Organism: Ranganathan’s Fifth Law of Library Science
and the Academic Library in the Digital Era. Library Philosophy and Practice
(e-journal). Paper 548.
Pendit, Putu
Laxman. 2008. Perpustakaan Digital dari A sampai Z. Jakarta: Cita Karyakarsa
Mandiri.
Pendit, Putu
Laxman . 2009. Perpustakaan Digital: Kesinambungan & Dinamika. Jakarta:
Cita Karyakarsa Mandiri.
Surachman,
Arif. 2011. Jaringan Perpustakan Digital di Indonesia: Pembelajaran dari
IndonesiaDLN, Jogjalib for All, Garuda dan Jogjalib.Net. Makalah dalam
Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-4, Samarinda 8-10 November 2011.
No comments:
Post a Comment