Tuesday, March 25, 2014

Perpustakaan Digital


Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi

Perpustakaan Digital



Oleh

Bhima              :
Malcolm          :
Muhamad Ridwan Putra       : 1501156383
Joel                  :

ABSTRAK
Perpustakaan sebagai sumber sarana tempat penyimpanan informasi dan penelitian. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan dunia teknologi yang mengharuskan agar terciptanya perpustakaan modern. Perpustakaan digital sebagai tempat penyimpanan koleksi berupa format digital dan tempat pertukaran infomsai melalui jaringan internet. Tidak seperti halnya perpustakaan konvensional, perpustakaan digital melebihi banyak keunggulan yang bisa memudahkan orang dalam mendapatkan informasi. Pembangunan perpustakaan digital tidak luput dari masalah-masalah yang menghambatnya.
Kata Kunci : perpustakaan, perpustakaan digital, masalah pembangunan perpustakaan digital


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
“The library is a growing organism”. Demikianlah bunyi dalil kelima Ranganathan yang digunakan untuk mencitrakan perpustakaan. Bagi Keren Barner (2011) dapat dikaitkan dengan gagasan yang dicetuskan oleh Charles Darwin (teori revolusi), yakni cara pandang naturalis yang meyakini bahwa makhluk hidup dapat bertahan serta berhasil melalui seleksi alam bila ia mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Perpustakaan sebagai tempat yang terus berubah sepanjang perjalanan sejarah, tak luput bagi para pustakawan untuk menghadirkan terobosan baru. Pendit (2009) menjelaskan bahwa perpustakaan adalah institusi yang terus mengalami perubahan, adaptif dengan perkembangan
teknologi, kendati relatif tak mengalami banyak perubahan tradisi aktivitas pokoknya sebagai penghimpun, penyimpan, serta penyedia rekaman pengetahuan.
Perpustakaan Digital atau yang bisa kita kenal Digital Library atau Virtual Library adalah suatu institusi yang menyimpan berbagai macam koleksi berupa digital secara terstruktur yang dapat disajikan melalui media internet. Dengan adanya perpustakaan digital yang bisa kita dapatkan dengan cara yang dinamis, diharapkan pendidikan yang ada pada masa sekarang ini bisa berkembang juga.
1.1  Ruang Lingkup
1.      Memberikan pemahaman tentang perpustakaan digital
2.      Menjelaskan masalah dalam mengembangkan perpustakaan digital

1.2  Tujuan dan Manfaat
Tujuan :
·         Menjelaskan pengertian perpustakaan digital
·         Menjelaskan perbedaan perpustakaan konvensional dan perpustakaan digital beserta kelebihannya
·         Menguraikan masalah dalam mengembangkan perpustakaan digital.
Manfaat :
Mengetahui pentingnya perpustakaan digital, manfaatnya, kelebihannya


1.3  Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1.    Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan penulisan ini.

2.    Metode Analisis
Pada metode ini penulis menganalisa dari apa yang sudah dicari melalui internet.
1.4  Sistematika Penulisan

BAB I       : Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
BAB II      : Landasan Teori
Dalam bab ini menguraikan beberapa teori atau konsep yang melandasi hal-hal dalam penelitian ini yang didapatkan melalui internet ataupun buku.
BAB III    : Pembahasan
Dalam bab ini menjelaskan bagaimana manfaat, tujuan serta masalah yang dihadapi dalam mengembangkan perpustakaan digital.
BAB IV    : Penutup
Dalam bab ini berisikan kesimpulan dan beberapa saran

BAB II
LANDASAN TEORI
3.1 Pengertian Perpustakaan
Menurut penjelasan ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ) “Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual”.
Menurut RUU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan bahwa “Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan”.
3.2 Sejarah Perpustakaan Digital
Gagasan yang muncul pertama kali sebagai dasar konsep perpustakaan digital muncul pada bulan Juli tahun 1945 oleh Vannevar Bush. Beliau mengeluhkan penyimpanan informasi manual yang menghambat akses terhadap penelitian yang sudah dipublikasikan. Untuk itu, Bush mengajukan ide untuk membuat catatan dan perpustakaan pribadi (untuk buku, rekaman/dokumentasi, dan komunikasi) yang termekanisasi.
Selama dekade 1950-an dan 1960-an keterbukaan akses terhadap koleksi perpustakaan terus diusahakan oleh peneliti, pustakawan, dan pihak-pihak lain, tetapi teknologi yang ada belum cukup menunjang.
Pada awal 1980-an fungsi-fungsi perpustakaan telah diotomasi melalui perangkat komputer, namun hanya pada lembaga-lembaga besar mengingat biaya investasi yang tinggi. Misalnya pada Library of Congress di Amerika yang telah mengimplementasikan sistem tampilan dokumen elektronik (electronic document imaging systems) untuk kepentingan penelitian dan operasional perpustakaan.Dari sudut pandang pengguna, komputer bukanlah bagian dari fasilitas manajemen perpustakaan melainkan hanya pelayanan untuk digunakan staf perpustakaan.
Pada awal 1990-an hampir seluruh fungsi perpustakaan ditunjang dengan otomasi dalam jumlah dan cara tertentu. Fungsi-fungsi tersebut antara lain pembuatan katalog, sirkulasi, peminjaman antar perpustakaan, pengelolaan jurnal, penambahan koleksi, kontrol keuangan, manajemen koleksi yang sudah ada, dan data pengguna. Dalam periode ini komunikasi data secara elektronik dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya semakin berkembang dengan cepat. Pada tahun 1994, Library of Congress mengeluarkan rancangan National Digital Library dengan menggunakan tampilan dokumen elektronik, penyimpanan dan penelusuran teks secara elektronik, dan teknologi lainnya terhadap koleksi cetak dan non-cetak tertentu. Selanjutnya pada September 1995, enam universitas di Amerika diberi dana untuk melakukan proyek penelitian perpustakaan digital.
2.2 Pengertian Perpustakaan Digital menurut para ahli
Menurut Arms (2000), “Perpustakaan digital adalah suatu koleksi informasi digital yang disusun secara sistematis yang disajikan dan dapat diakses menggunakan jaringan computer”.
Menurut Lesk (1997): “Perpustakaan Digital adalah koleksi informasi digital yang terorganisir. Ia merupakan kumpulan berbagai kombinasi informasi, arsip bersejarah berupa digital terstruktur yang disajikan dengan jaringan komputer”.
Menurut Pendit (2009) “Perpustakaan adalah institusi yang terus mengalami perubahan, adaptif dengan perkembangan teknologi, kendati relatif tak mengalami banyak perubahan tradisi aktivitas pokoknya sebagai penghimpun, penyimpan, serta penyedia rekaman pengetahuan”.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Perpustakaan Digital (Digital Library)
Pendit (2008: 3) menerjemahkan definisi perpustakaan digital dari DFL sebagai berikut :
“Perpustakaan digital adalah berbagai organisasi yang menyediakan sumberdaya, termasuk pegawai yang terlatih khusus, untuk memilih, mengatur, menawarkan akses, memahami, menyebarkan, menjaga integritas, dan memastikan keutuhan karya digital, sedemikian rupa sehingga koleksi tersedia dan terjangkau secara ekonomis oleh sebuah atau sekumpulan komunitas yang membutuhkannya.”
Berdasarkan penjelasan yang dipaparkan oleh Pendit, penulis menyimpulkan perpustakaan digital adalah suatu institusi yang berisikan kumpulan-kumpulan informasi dari berbagai sumber berupa digital yang memudahkan mereka dalam mencari informasi yang dibutuhkan.
kita bisa mengetahui bahwa dengan perpustakaan digital, kunjungan mereka (baik kunjngan ke lokasi fisik maupun ke situs internet) bisa lebih efektif dan efisien. Namun, bagaimana koleksi digital itu dimanfaatkan, semua tergantung dari manusia itu sendiri apakah akan memanfaatkan fasilitas perpustakaan digital atau tidak. Karena masih banyak dari kita yang tidak mengerti akan teknologi informasi. Dan tergantung bagaimana informasi tersebut dibuat, diorganisasikan dan disajikan sehingga bisa lebih dimengerti oleh mereka yang buta akan teknologi informasi.
Selain itu, perpustakaan digital bukan hanya sebagai manajemen pengetahuan dan informasi, tetapi juga sebagai sumber informasi yang mulai diharapkan untuk menjalankan peranan dalam mengembangkan pendidikan.
3.2 Jenis-jenis perpustakaan digital
1.      Full Text.
·         Pengolahan dan manipulasi data lebih mudah
·         Ukuran data leibh kecil
·         Data terformat dalam bentuk SGML (Standard Generalized Markup Language)
2.      Page Image.
·         Sesuai untuk system Browsing
·         Tidak memerlukan font karena berupa file image
3.3 Perpustakaan Tradisional dan Perpustakaan Digital
“Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.” Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perpustakaan ialah suatu institusi yang menyimpan berbagai koleksi yang berupa non digital (cetak).
Kelebihan Perpustakaan Digital daripada Perpustakaan Konvensional
·         Menghemat ruangan
Dengan koleksi buku-buku berupa digital maka tidak membutuhkan tempat yang luas untuk menaruh buku-buku koleksi seperti di perpustakaan konvensional.
·         Memiliki beberapa akses
Pada perpustakaan digital tidak mempengaruhi adanya keterbatasan dalam menggunakan buku-buku koleksi yang tersedia. Mereka bisa menggunakan koleksi yang mereka inginkan dalam waktu yang bersamaan. Sehingga apabila buku yang mereka inginkan digunakan oleh orang lain maka mereka bisa juga mengunduh yang sama. Sedangkan pada perpustakaan konvensional, apabila buku yang mereka ingin pinjam maka mereka harus menunggu sampai batas waktu pinjam buku tersebut telah habis.
·         Tidak adanya batasan Ruang dan Waktu
Dengan perpustakaan digital setiap orang bisa mengunduh dimana saja dan kapan saja dengan jaringan internet.
·         Memiliki bentuk menarik
Pada perpustakaan digital dapat memiliki bentuk tidak hanya satu saja (gambar atau tulisan saja) dalam penyajiannya. Dikarenakan apabila orang tersebut belum memahami maksud yang terdapat pada buku tersebut, maka bisa dijelaskan dengan beberapa fungsi (video, gambar, tulisan). Contoh : pada proses menyalanya bola lampu, dengan menjelaskan aliran-aliran listrik yang mengalir dan tahap-tahap agar tidak terjadi konsleting).
·         Biaya yang murah
Dengan hanya mengunduh ebook maka biaya yang dihasilkan cukup murah bila dibandingkan membeli buku yang diinginkan karena buku tersebut dipinjam oleh orang lain.
3.4 faktor pendukung perkembangan perpustakaan digital
1.      Pada perpustakaan konvensional tidak adanya sistem komputerisasi yang dapat mempermudah seseorang menemukan buku, mengunduh, membaca bersamaan tanpa harus menunggu proses peminjaman selesai.
2.      Adanya keterbatasan ruang sehingga tidak semua koleksi bisa didapatkan pada perpustakaan konvensional
3.      Semakin banyaknya akses internet (hotspot) diberbagai tempat sehingga memudahkan mereka dalam menemukan informasi.
4.      Memiliki sistem database sehingga koleksi-koleksi tersusun dengan baik.
3.5 Faktor penghambat perkembangan perpustakaan digital
Menurut Surachman (2011) ada beberapa factor yang bisa menghambat perkembangan perpustakaan digital yaitu :
1)      Masalah Interoperabilitas
Menurut Pendit (2008: 146-147), dari sisi pandang komputerisasi, interoperabilitas merupakan salah satu hal yang paling sulit dalam upaya mengembangkan perpustakaan digital.
Pendit (2008: 149), interoperabilitas juga mengandung dimensi sosial yang dimaknai sebagai kehendak untuk bekerja sama antarpengelola perpustakaan digital dan aspek-aspek lain yang menyangkut pengguna.
2)      Soal Berkelanjutan
3)      Masalah Kebijakan
4)      Masalah Teknis lainnya
Menurut Pendit (2009: 62-63) beberapa masalah yang dihadapi pihak pengelola bila mengandalkan penyediaan akses bagi pengguna untuk memperoleh informasi antara lain:
• Sifat isi atau kandungan informasi yang semakin bersifat sementara sebab nyaris tak ada sarana untuk memastikan bahwa dokumen digital yang pernah diakses masih dapat diperoleh pada masa kini dan akan datang, karena ada kecenderungan perubahan pada pangkalan data yang pernah diakses atau karena perpustakaan tak lagi punya hak untuk menyediakan akses pada pangkalan data yang dilanggan.
• Hubungan antara perpustakaan sebagai penyedia akses dengan pemilik pangkalan data merupakan hubungan antara pelanggan dan penyedia, yang mana ada ketentuan lisensi dan konsekuensi secara finansial. Hubungan itupun bersifat sementara, dalam rentang waktu tertentu sesuai kesepakatan antara dua belah pihak yang juga disepadankan dengan jumlah anggaran. Dalam hal ini, perpustakaan yang menyediakan akses pada ribuan artikel jurnal elektronik tidaklah berarti memilikinya, hal itu hanya bersifat sementara. Bila masa hak penyediaan akses berakhir, maka berakhir pula periode “kepemilikan atas koleksi digital” tersebut.
• Pengelola perpustakaan tak dapat serta-merta mengambil dan menyimpan dokumen berupa jurnal dan buku elektronik dari pangkalan data yang dilanggan, karena ada ketentuan hak atas kekayaan intelektual berupa lisensi yang secara penuh dimiliki oleh pemilik pangkalan data, sedangkan perpustakaan hanya dapat “membeli” lisensi tersebut dalam jangka waktu tertentu. Apabila masa berlangganan berakhir, maka institusi perpustakaan dapat dipermasalahkan secara hukum apabila masih menyediakan dokumen tersebut.

3.6 Masalah pada perpustakaan digital
1.      Biaya
Suatu perubahan pastilah tidak hanya membutuhkan inovasi yang bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda tetapi juga membutuhkan ivestasi untuk mewujudkan inovasi tersebut.
2.       
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dengan adanya perpustakaan digital tidak memerlukan banyak ruang untuk menyimpan berbagai jenis koleksi. Dengan format digital memudahkan setiap orang dalam mengaksesnya. Bisa mendapatkan informasi yang mereka butuhkan kapan saja dan dimana saja dengan menggunakan jaringan internet.
4.2 Saran
Perpustakaan digital harus diperkenalkan lebih jauh ke masyarakat agar penggunaan perpustakaan digital bisa lebih efektif sehingga bisa menambah pengetahuan pada masyarakat. Adanya sarana untuk menjadi daya tarik terhadap anak-anak sehingga anak-anak senang berkunjung ke perpustakaan digital
DAFTAR PUSTAKA
Barner, Keren. 2011. The Library is a Growing Organism: Ranganathan’s Fifth Law of Library Science and the Academic Library in the Digital Era. Library Philosophy and Practice (e-journal). Paper 548.
Pendit, Putu Laxman. 2008. Perpustakaan Digital dari A sampai Z. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.
Pendit, Putu Laxman . 2009. Perpustakaan Digital: Kesinambungan & Dinamika. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.
Surachman, Arif. 2011. Jaringan Perpustakan Digital di Indonesia: Pembelajaran dari IndonesiaDLN, Jogjalib for All, Garuda dan Jogjalib.Net. Makalah dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-4, Samarinda 8-10 November 2011.


No comments:

Post a Comment