Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi
GREEN COMPUTING
Oleh
Bhima :
Malcolm :
Muhamad Ridwan Putra : 1501156383
Joel :
ABSTRAK
Green Computing adalah perilaku menggunakan sumber daya komputasi secara
efisien, dengan caramemaksimalkan efisiensi energi, memperpanjang masa pakai
perangkat keras, meminimalkanpenggunaan kertas, dan beberapa hal teknis
lainnya.Dengan perkembangan TI (Teknologi Informasi) yang begitu cepat,
penggunaan produk-produk TI punjuga meningkat. Dalam menggunakan produk TI baik
software maupun hardware, sangat disarankanbagi seluruh pihak pelaku TI untuk
memegang prinsip 3BL (triple bottom line) yang terdiri dari planet(lingkungan),
people (manusia) dan profit (manfaat).Bagi banyak orang, apa sebenarnya arti
green computing? Sederhana sebenarnya. Green computing berarti menggunakan
sumber daya sebaik-baiknya. Sebagian besar dari kita menggunakan PC dalam
kehidupansehari-hari, baik itu untuk bekerja, melakukan kegiatan-kegiatan
lainnya, bahkan bermain game.Sekarang, apakah Anda tetap membiarkan PC menyala
saat tidak digunakan? Terkadang memang kitasering melupakan PC dan monitor
dalam keadaan menyala. Sadarkah anda sebuah PC tanpa monitor umumnya
mengkonsumsi listrik sebesar 65 - 100 watt saat tidak digunakan. Tentu ini
sangat tidak efisien. Sumber daya tersebut tetap terpakai walau kita tidak
melakukan apa-apa.Apa yang bisa kita lakukan? Matikan PC dan
perangkat-perangkat elektronik lain yang terhubungdengan komputer anda saat
tidak digunakan.Ini berarti Anda sudah menghemat daya dan mengurangi tagihan
listrik Anda. Budayakanlah green computing dengan membudayakan green computing
secara tidak langsung kita telah mendukung penghematan energi dan terhindar
dari krisis listrik berlanjut.Tujuan dari penelitian mengenai green computing
ini adalah agar kita manusia dapat menggunakan sumber daya komputasi efisien
energi. dengan memaksimalkan efesiensi energi kita dapat memperpanjang masa
pakai perangkat keras, meminimalkan penggunaan kertas dan beberapa hal teknis
lainnya.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa
ini, di dunia semakin terjadi krisis energi. Hal ini disebabkan oleh
ketergantungan manusia pada minyak yang sangat tinggi, yaitu skala 37%. Padahal
minyak tersebut bersifat polutan, yaitu tidak bisa diperbaharui. Diperparah
dengan kondisi hutan yang semakin menyempit (deforestasi) dan global warming,
maka kondisi dunia semakin kritis. Pelestarian lingkungan hidup dan iklim bumi
termasuk di antara tantangan global abad ke-21 yang disadari sepenuhnya oleh
kalangan politik, media dan masyarakat umum di dunia internasional.
Pemanasan
atau pendinginan global dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor manusia. Yang
termasuk faktor alam adalah tingkat radiasi matahari dan letusan gunung.
Sementara, letusan gunung berapi memberikan efek penuruanan suhu bumi untuk
beberapa saat. Aktifitas manusia juga memberikan efek pada naik turunnya suhu
bumi. Namun jika diakumulasi, maka secara keseluruhan aktifitas manusia pada
peningkatan suhu bumi jauh lebih besar daripada kontribusi faktor-faktor yang
lain . Besarnya kontribusi terhadap pemanasan global disebut dengan istilah radiative
forcing. Semakin besar radiative forcing semakin besar kontribusinya terhadap
pemasan global (lihat gambar di bawah).
Aktivitas
manusia yang paling banyak mempengaruhi lingkungan ataupun kerusakan lingkungan
tersebut merupakan fenomena nyata. Hal ini dapat diketahui salah satunya dengan
melihat permintaan listrik di Indonesia terus meningkat, 10% – 15% per tahun.
Entah untuk kegiatan rumah tangga, perkantoran, dan industri. Pada bulan
Oktober 2005 diperhitungkan cadangan listrik di Jawa – Bali hanya tinggal 120
MW (megawatt), sementara idealnya cadangan minimum yang harus tersedia 600MW
(Simanjorang, 2010). Hal ini telah menandakan cadangan energy semakin menipis.
Sehingga, PLN sering memberlakukan pemadaman bergilir. Lebih-lebih di era
globalisasi ini dimana informasi sangat penting dan menjamurnya dunia internet
dikalangan pelajar, pebisnis maupun masyarakat pada umumnya.
Nawala
Departemen Pendidikan Nasional mencatat, pengguna komputer di Indonesia
saat ini sebanyak 40 juta. Dari jumlah tersebut lebih dari separuhnya telah
terkoneksi dengan internet. hal ini tentunya akan mendorong kebutuhan energy
listrik yang semakin meningkat. Menurut InternetWorldStats,
Indonesia memiliki jumlah populasi pada tahun 2009 sebesar 240.271.522 penduduk
dengan jumlah pengguna internet sebesar 25.000.000 penduduk per Mei 2008 pada
tingkat penetrasi 10.4% menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia).
Hal ini
merupakan salah satu fenomena betapa jumlah populasi ini menjadi penyebab
beralihnya gaya hidup masyarakat di bidang teknologi, khususnya penggunaan
laptop/notebook. Bagaimana tidak, menjamurnya masyarakat yang membawa laptop
untuk aktivitas sehari-sehari merupakan suatu kebutuhan layaknya sandang dan
pangan. Pergeseran nilai budaya ini sebanding dengan maraknya teknologi yang
murah, mudah, dan menjanjikan. Internet merupakan salah satu pemicu masyarakat
untuk beralih ke gaya hidup yang dilingkupi kemudahan melalui tren Teknologi Informasi.
Bahkan, Indonesia sudah menembus angka 294.500 pengguna koneksi internet
broadband per Juni 2009 menurut ITU (International Telecommunication Union).
Sehingga, menurut data ITU dan APJII, dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu
alasan masyarakat untuk memanfaatkan laptop karena adanya eksistensi internet.
Jelas tidak disangkal bahwa kedepannya, masyarakat akan lebih memilih teknologi
untuk memanjakan hidupnya dan sebagai salah satu bagian dari gaya hidup di era
digitalisasi (Wahyudiarto, 2010).
Kemajuan
teknologi informasi di Indonesia saat ini mulai pesat, perilaku boros dalam
menggunakan energi akan menambah dampak dari pemanasan global. Tentunya hal ini
harus dibarengi oleh penggunaan teknologi informasi yang ramah lingkungan.
Green computing merupakan salah satu strategi jitu untuk penggunaan sumber daya
computer secara efisien.
1.2 Ruang Lingkup
1. Memberikan informasi tentang Green
Computing
2. Cara-cara menerapkan Green Computing
dan manfaatnya
1.3 Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan yang telah dijelaskan pada latar belakang, maka Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan pada Green Computing. Serta
dapat memberikan manfaat kepada para pembaca tentang kegunaan Green computing.
bahaya dari limbah elektronik dan memulai untuk menerapkan Green Computing
1.4 Metodologi
Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1. Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media
internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam
penyusunan penulisan ini.
2. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan
menganalisis dan me-review perkembangan green computing yang ada di Indonesia.
1.5 Sistematika
Penulisan
BAB I : Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan
tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang terdiri dari Latar
Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi Penelitian, dan
Sistematika Penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Dalam bab ini akan menguraikan teori atau
konsep yang melandasi hal-hal yang terdapat dalam penelitian ini, secara umum
dijelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan kinerja sistem informasi
baik dikutip dari berbagai referensi maupun hasil riset yang didapat.
BAB III : Pembahasan
BAB IV : Penutup
BAB II
LANDASAN TEORI
Menurut Enterprise
Management Associates white paper (2008:
3) berjudul “Green Computing: Using IT
Automation to Achieve Energy Efficiency”,
green computing adalah sebuah praktik
dalam mengimplementasikan prosedur dan kebijakan yang meningkatkan efisiensi
dari pemakaian komputer dengan berbagai cara untuk mengurangi dampak dari
pemanfaatan komputer tersebut.
Menurut Leonhard dan Murray (2009: 8) green computing adalah cara pemakaian
sistem komputer secara efektif dan efisien, pemanfaatan konsumsi energi dan
bertanggung jawab atas pembuangan komponen yang sudah tidak dibutuhkan.
Menurut
Mathew (2008: 6) pada laporan seminarnya, green
computing adalah sebuah pembelajaran dan praktik dari penggunaan komputer
secara efisien. Tujuan utama dari green
computing ini adalah untuk mengurangi pemakaian material berbahaya,
memaksimalkan efisiensi energi sepanjang umur produk, dan mengajukan produk
yang dapat didaur ulang.
Menurut Chakraboty (2009: 33) dalam jurnalnya
mengatakan bahwa green computing
adalah sebuah praktik menggunakan energi komputer secara efisien.
Menurut Australian Information Industry Association (AIIA) (2009: 9) green TI merupakan sebuah agenda dalam
melakukan pemakaian energi secara efisien.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Green Computing
Green Computing
adalah pengurangan pemakaian listrik dan pembuangan limbah lingkungan secara
berlebihan ketika menggunakan komputer. Orang-Orang menggunakan dan sering
memboroskan sumber-sumber daya seperti listrik dan kertas ketika menggunakan
komputer.
Istilah Green
Computing itu sendiri muncul dengan booming-nya Energy Star, khususnya mengarah
ke bagaimana kita bisa efisien dalam konsumsi energi pada penggunaan produk
computing. Saat itu dimulai pada tahun 1992 US Environmental Protection Agency
merelease program Energy Star, yaitu program promosi dan penghargaan bagi
penerap efisiensi energi pada teknologi monitor, pengontrol iklim, dan
teknologi lain.
Landasan
pergerakannya adalah kebutuhan akan
economic viability (keberlangsungan hidup), social responsibility
(tanggung jawab sosial) dan environmental impact (pengaruh lingkungan).
Lima kata kunci yang
muncul dari beberapa definisi diatas adalah, sustainability, environmental
friendly, energi efficient, resource efficient dan reduce useless work.
Ternyata Green Computing tidak hanya membahas tentang energy consumption, tapi
juga bagaimana kita bisa menggunakan komputer beserta berbagai tool dan
kontennya dengan lebih efisien dan jelas manfaatnya.
3.2 E - Waste dan
Bahayanya
E-waste adalah sampah atau limbah
berupa perangkat atau barang elektronik yang dibuang karena usang atau rusak .
Sampah ini harus mendapat perhatian lebih karena mengandung bahan beracun
berbahaya (B3).
Limbah elektronik ini setiap tahunnya mengalami peningkatan mengingat tumbuh pesatnya penggunaan barang elektronik,seperti ponsel, tv atau komputer. Menurut data PBB, setiap tahun antara 20-50 juta ton limbah elektronik (e-waste) dibuang tanpa diproses dengan cara yang ramah lingkungan.
Permasalahannya adalah pengelolaan untuk sampah elektronik ini tidaklah mudah. Pada daur ulangnya tetap akan menjadi masalah karena barang elektronik dan proses daur ulangnya terdapat bahan beracun dan dapat menyebabkan kanker.
Bahan beracun yang terkandung dalam sampah elektronik antara lain timah, air raksa dan kadmium.Sedangkan bahan yang dapat menyebabkan kanker dalam sampah elektronik adalah polychlorinated biphenyls (PCBs) ataupun chlorofluorocarbon (CFC).
E-waste bisa menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan manusia karena merupakan sumber toksik, termasuk zat karsinogenik di dalamnya. Apabila dibuang secara langsung tanpa melalui pengolahan, zat dari e-waste yang ada dapat meresap ke dalam tanah, ke air, dan akhirnya dapat mencemari lingkungan sekitar kita sendiri.
Negara-negara maju sendiri daur ulang dan pembuangan sampah elektronik mengandung resiko tinggi bagi pekerja dan masyarakat . Sehingga memerlukan kehati-hatian agar tidak terjadi paparan yang tidak aman dalam proses daur ulang tersebut.
Saat ini memang belum banyak yang menyediakan tempat pengumpulan limbah elektronika di Tanah Air seperti yang telah dikkukan di negara lain.
Limbah elektronik ini setiap tahunnya mengalami peningkatan mengingat tumbuh pesatnya penggunaan barang elektronik,seperti ponsel, tv atau komputer. Menurut data PBB, setiap tahun antara 20-50 juta ton limbah elektronik (e-waste) dibuang tanpa diproses dengan cara yang ramah lingkungan.
Permasalahannya adalah pengelolaan untuk sampah elektronik ini tidaklah mudah. Pada daur ulangnya tetap akan menjadi masalah karena barang elektronik dan proses daur ulangnya terdapat bahan beracun dan dapat menyebabkan kanker.
Bahan beracun yang terkandung dalam sampah elektronik antara lain timah, air raksa dan kadmium.Sedangkan bahan yang dapat menyebabkan kanker dalam sampah elektronik adalah polychlorinated biphenyls (PCBs) ataupun chlorofluorocarbon (CFC).
E-waste bisa menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan manusia karena merupakan sumber toksik, termasuk zat karsinogenik di dalamnya. Apabila dibuang secara langsung tanpa melalui pengolahan, zat dari e-waste yang ada dapat meresap ke dalam tanah, ke air, dan akhirnya dapat mencemari lingkungan sekitar kita sendiri.
Negara-negara maju sendiri daur ulang dan pembuangan sampah elektronik mengandung resiko tinggi bagi pekerja dan masyarakat . Sehingga memerlukan kehati-hatian agar tidak terjadi paparan yang tidak aman dalam proses daur ulang tersebut.
Saat ini memang belum banyak yang menyediakan tempat pengumpulan limbah elektronika di Tanah Air seperti yang telah dikkukan di negara lain.
Seperti Kota Guiyu, China, adalah
rumah bagi 5500 industri rumahan yang mengolah bagian-bagian dari elektronik
bekas. Berdasarkan data dari situs lokal, wilayah tersebut setiap tahunnya
mengolah sekitar 1.5 juta pon sampah yang terdiri dari sampah komputer, ponsel
maupun perangkat elektronik lainnya. Industri tersebut menjadi lapangan
pekerjaan yang menggiurkan bagi masayarakat di Guiyu.
Kebanyakan ponsel dan perangkat komputer tua dibongkar dan komponen metal di dalamnya didaur ulang, akan
tetapi menjalankan proses daur ulang ini secara aman membutuhkan waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu banyak produsen elektronik yang mengirimkan elektronik bekas keluar negeri, di mana alat-alat ini dibakar tanpa mempedulikan linkungan dan kesehatan manusia di sekitarnya.
Hampir 80% dari peralatan elektronik bekas yang diolah berasal dari luar China, terutama sekali dari Amerika,
satu-satunya negara industri yang menolak menandatangani perjanjian Basel yang dibuat untuk mengatur ekspor limbah berbahaya ke negara-negara berkembang untuk didaur ulang. Mereka memilih membuang sampah elektronik di Guiyu dan tempat lain yang serupa di India dan wilayah Afrika, karena biayanya yang murah dan mekanismenya yang lebih mudah, di mana perusahaan tidak terikat peraturan daur ulang yang ketat. Mereka mengolah sampah elektronik dengan memisah-misahkan tiap bagian dan mengelompokkannya, kemudian mengambil kandungan timah, emas, tembaga dan jenis logam lainnya dari papan sirkuit, kabel, chip dan bagian lain dari perangkat elektronik. Pekerja juga memanaskan papan komputer di atas lapisan besi untuk mengambil timah solderan dari chip komputer. Industri kecil ini mempekerjakan 10.000 orang yang kebanyakan masih di bawah umur. Bisa dibayangkan akibat dari komponen elektronik yang mengandung merkuri dan racun yang berbahaya terhadap mereka.
Kebanyakan ponsel dan perangkat komputer tua dibongkar dan komponen metal di dalamnya didaur ulang, akan
tetapi menjalankan proses daur ulang ini secara aman membutuhkan waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu banyak produsen elektronik yang mengirimkan elektronik bekas keluar negeri, di mana alat-alat ini dibakar tanpa mempedulikan linkungan dan kesehatan manusia di sekitarnya.
Hampir 80% dari peralatan elektronik bekas yang diolah berasal dari luar China, terutama sekali dari Amerika,
satu-satunya negara industri yang menolak menandatangani perjanjian Basel yang dibuat untuk mengatur ekspor limbah berbahaya ke negara-negara berkembang untuk didaur ulang. Mereka memilih membuang sampah elektronik di Guiyu dan tempat lain yang serupa di India dan wilayah Afrika, karena biayanya yang murah dan mekanismenya yang lebih mudah, di mana perusahaan tidak terikat peraturan daur ulang yang ketat. Mereka mengolah sampah elektronik dengan memisah-misahkan tiap bagian dan mengelompokkannya, kemudian mengambil kandungan timah, emas, tembaga dan jenis logam lainnya dari papan sirkuit, kabel, chip dan bagian lain dari perangkat elektronik. Pekerja juga memanaskan papan komputer di atas lapisan besi untuk mengambil timah solderan dari chip komputer. Industri kecil ini mempekerjakan 10.000 orang yang kebanyakan masih di bawah umur. Bisa dibayangkan akibat dari komponen elektronik yang mengandung merkuri dan racun yang berbahaya terhadap mereka.
Laporan kesehatan dari wilayah
Guiyu menyebutkan banyak anak-anak yang menderita karena tingginya tingkat
pencemaran lingkungan akibat timah. Kemudian laporan dari universitas Shantou,
Guiyu memiliki tingkat penderita penyakit kanker yang disebabkan oleh dioksin
paling tinggi di dunia dan peningkatan pada kasus keguguran pada wanita hamil. Industri
semacam ini banyak menghasilkan pencemaran lingkungan karena banyak membuang
limbah hasil olahan, terutama debu dari pembakaran batu bara yang langsung
dibuang ke sungai dan selokan kota, menyebabkan pencemaran terhadap air sumur
dan air tanah.
Setiap tahun, sampah elektronik
di seluruh dunia mencapai 36 juta metrik ton. Artinya, 36 kali lebih banyak
dari
jumlah batubara yang diekspor dari Kalimantan Selatan ke Cina setiap tahun. Itu baru catatan tahun lalu dari Badan PBB untuk masalah lingkungan, UNEP. Sampah ini lantas dilimpahkan ke negara berkembang sebagai tempat sampah elektronik. Salah satunya Indonesia.
jumlah batubara yang diekspor dari Kalimantan Selatan ke Cina setiap tahun. Itu baru catatan tahun lalu dari Badan PBB untuk masalah lingkungan, UNEP. Sampah ini lantas dilimpahkan ke negara berkembang sebagai tempat sampah elektronik. Salah satunya Indonesia.
Cara-cara untuk melakukan Green Computing
- Green
Computing on PC
·
Laptop hanya
memerlukan 10% energi yang digunakan Desktop. Flat screen hanya menggunakan 30%
energi yang digunakan oleh Monitor CRT
·
Coba upgrade RAM,
sebelum memutuskan ganti komputer. Komputer lambat bisa karena kotornya
registry atau ada background services yang berjalan padahal sebenarnya tidak
kita perlukan. Cek dan matikan services yang sedang berjalan padahal
tidak perlu itu. Misalnya untuk Windows jalankan Start > Run >
type “msconfig”
·
Menggunakan PC dan
printer dengan merk dan jenis sama memudahkan kanibalisme dan proses recycle
·
Matikan komputer
ketika tidak digunakan (malam hari). Mematikan komputer akan mengurangi umur
komputer adalah mitos yang salah
·
Screen saver is not energy saver. Pilih matikan monitor daripada menggunakan
screen saver
·
Pilih virtualisasi
daripada pembelian hardware baru (hemat 70% energi)
·
Pilih peripheral
berlogo energy star
·
Catat bahwa mode power
menentukan prosentase hemat energi (Sleep mode – hemat 70% energi, Standby mode – hemat 90% energi, Hibernate
mode – hemat 98% energi)
·
Jangan cepat membuang
PC, lakukan recycle atau donasi ke pihak lain apabila sudah tidak digunakan.
- Green Computing on Laptop
·
Gunakan power saving
setting
·
Kurangi penggunaan
backlight
·
Atur layar dan
harddisk sleep/off setelah beberapa menit tanpa penggunaan
·
Matikan bluetooth dan
wifi ketika tidak digunakan
·
Lepas kartu MMC, SD, USB
Flash apabila tidak digunakan
·
Kecilkan volume suara
dan kontras layar
·
Minimalisir penggunaan
IrDA (infrared) atau serial communication, karena boros energi
·
Upgrade RAM sebelum
ganti laptop
·
Jangan cepat membuang
Laptop, lakukan recycle atau donasi ke pihak lain apabila sudah tidak digunakan
- Green Computing on Paperless Method
Usahakan menggunakan paperless method untuk berbagai urusan kita karena itu
mengurangi sampah carbon footprint. Apabila memungkinkan kembangkan dan
terapkan Document Management System, Electronic Invoicing dan Electronic Business Process pada institusi kita.
- Green Computing on Paperless Education
·
Hindari kertas,
gunakan file elektronik or blog untuk pengumpulan laporan dan tugas
·
Lupakan cara
konvensional, gunakan eLearning System untuk
penyebaran modul ajar, forum diskusi dan assesment
·
Gunakan Chatting dan Social Networking untuk mendukung pembelajaran. Ingat
bahwa chatting untuk pacaran or
godain orang, are not Green Computing!
- Green Computing on Paperless Branding and Marketing
·
Lupakan kartu nama,
CV, koran dan majalah untuk personal branding
·
Manfaatkan google
sebagai kurir dan salesman kita dalam marketing dan branding
Penerapan Green Computing dalam kehidupan sehari-hari
1.
Green Computing Pada
Data Center
Data Center memiliki
beberapa permasalahan, yaitu mahalnya biaya maintanence, biaya operasional lalu
ada juga Permasalahan pada konsumsi listrik, pendingin, dan ruangan. Namun
dengan penerapan green computing hal itu dapat diselesaikan dengan penerapan
berbagai hal berikut:
·
Teknologi Server Hemat
Energi
Yaitu dengan
pengaturan clock processor, jika task tidak banyak , maka clock processor
dikurangi. Hal ini berguna untuk efisiensi kinerja processor.Teknologi ini
terdapat pada Intel (speedstep), AMD (coolnow), Sun Microsystem
(coolthread).Keuntungan yang diperoleh dengan teknologi ini adalah hemat
energi, karena panas rendah. Dengan panas rendah, maka energi pendingin yang
dibutuhkan juga rendah.
·
Teknologi
Virtualization
Dengan Teknologi
Virtualization dari sebuah mesin didalamnya memiliki tiga mesin namun secara
virtual keuntungan yang didapat dengan teknologi ini adalah hemata ruang,
energy, kabel, dan optimalisasi mesin.
·
Teknologi Blade Server
Teknologi ini yaitu
teknologi yang membuat tampilan server dengan bentuk fisik horizontal,
dikarenakan Bentuk ini dirasa lebih hemat ruang, kabel, dan energi dibandingkan
bila bentuk fisiknya vertikal.
·
Data Center Power
Efficiency Metrics
Yaitu adalah teknologi
untuk penghematan penggunaan energi , dengan dua parameter: PUE (Power Usage
Efficiency), DCE (Data Center Efficiency).Hasil pengukuran Lawrence Berkeley
National Labs terhadap 22 data center, menunjukkan nilai PUE antara 1,3 hingga
3,0.
2.
Green Computing Pada
Workstation
Biasanya pada sebuah
perkantoran workstation merupakan penyedot energy terbesar, namun dengan solusi
berikut yang berpatokan pada green computing hal tersebut dapat diakali :
·
Teknologi Power
Management
Teknologi yang
terdapat pada BIOS ini melalui ACPI (Advanced Configuration & Power
Interface) akan memotong penggunaan energ rata-rata sebesar 25% konsumsi
energy.
·
Tim Klien
Dengan Tim Klien
konsumsi energi hanya sebesar 50%
·
Ganti Desktop PC
Dengan Laptop
Dengan pergantian
Desktop PC dengan laptop jelas penggunaan energy pada workstation akan
berkurang besar, dikarenakan konsumsi energy laptop lebih kecil.
3.
Green Computing Pada
Lingkungan kerja
Dengan penerapan green
computing pada lingkungan kerja kita dapat menghemat biaya maintenance,
operasional, energy, dan juga transportasi. Untuk penerapanya ada 3 pilihan :
Skype, solusi voip
Solusi IM (Instant
Messaging)
Solusi unified
communication (voip + IM)
4.
Green Computing Pada
Diri Sendiri
Green computing pada
diri sendiri adalah hal yang kita bisa lakukan pada sehari harinya, misalnya dengan
menggunakan komputer daur ulang atau menggunakan komputer dulu yang di upgrade
specnya, menggunakan kertas daur ulang untuk memprint, gunakan layar monitor
seperlunya. Inti dari green computing pada diri sendiri adalha penggunaan
energy secara hemat dan efisien.
Manfaat Green Computing
·
Menghemat daya dan
Hemat listrik
·
memperpanjang usia
perangkat computer
·
mengurangi emisi
karbondioksida
·
membutuhkan sedikit
hardware
·
Penghematan kertas
·
Terhindar dari Krisis
listrik berlanjut
·
Memelihara Lingkungan
agar menjadi lebih baik
·
Ramah lingkungan
BAB
IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
4.2
Saran
DAFTAR
PUSTAKA
No comments:
Post a Comment