Friday, March 7, 2014

Green Computing


Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi

GREEN COMPUTING





Oleh

Bhima            :
Malcolm         :
Muhamad Ridwan Putra      : 1501156383
Joel                 :

ABSTRAK
Green Computing adalah perilaku menggunakan sumber daya komputasi secara efisien, dengan caramemaksimalkan efisiensi energi, memperpanjang masa pakai perangkat keras, meminimalkanpenggunaan kertas, dan beberapa hal teknis lainnya.Dengan perkembangan TI (Teknologi Informasi) yang begitu cepat, penggunaan produk-produk TI punjuga meningkat. Dalam menggunakan produk TI baik software maupun hardware, sangat disarankanbagi seluruh pihak pelaku TI untuk memegang prinsip 3BL (triple bottom line) yang terdiri dari planet(lingkungan), people (manusia) dan profit (manfaat).Bagi banyak orang, apa sebenarnya arti green computing? Sederhana sebenarnya. Green computing berarti menggunakan sumber daya sebaik-baiknya. Sebagian besar dari kita menggunakan PC dalam kehidupansehari-hari, baik itu untuk bekerja, melakukan kegiatan-kegiatan lainnya, bahkan bermain game.Sekarang, apakah Anda tetap membiarkan PC menyala saat tidak digunakan? Terkadang memang kitasering melupakan PC dan monitor dalam keadaan menyala. Sadarkah anda sebuah PC tanpa monitor umumnya mengkonsumsi listrik sebesar 65 - 100 watt saat tidak digunakan. Tentu ini sangat tidak efisien. Sumber daya tersebut tetap terpakai walau kita tidak melakukan apa-apa.Apa yang bisa kita lakukan? Matikan PC dan perangkat-perangkat elektronik lain yang terhubungdengan komputer anda saat tidak digunakan.Ini berarti Anda sudah menghemat daya dan mengurangi tagihan listrik Anda. Budayakanlah green computing dengan membudayakan green computing secara tidak langsung kita telah mendukung penghematan energi dan terhindar dari krisis listrik berlanjut.Tujuan dari penelitian mengenai green computing ini adalah agar kita manusia dapat menggunakan sumber daya komputasi efisien energi. dengan memaksimalkan efesiensi energi kita dapat memperpanjang masa pakai perangkat keras, meminimalkan penggunaan kertas dan beberapa hal teknis lainnya.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Dewasa ini, di dunia semakin terjadi krisis energi. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan manusia pada minyak yang sangat tinggi, yaitu skala 37%. Padahal minyak tersebut bersifat polutan, yaitu tidak bisa diperbaharui. Diperparah dengan kondisi hutan yang semakin menyempit (deforestasi) dan global warming, maka kondisi dunia semakin kritis. Pelestarian lingkungan hidup dan iklim bumi termasuk di antara tantangan global abad ke-21 yang disadari sepenuhnya oleh kalangan politik, media dan masyarakat umum di dunia internasional.
Pemanasan atau pendinginan global dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor manusia. Yang termasuk faktor alam adalah tingkat radiasi matahari dan letusan gunung. Sementara, letusan gunung berapi memberikan efek penuruanan suhu bumi untuk beberapa saat. Aktifitas manusia juga memberikan efek pada naik turunnya suhu bumi. Namun jika diakumulasi, maka secara keseluruhan aktifitas manusia pada peningkatan suhu bumi jauh lebih besar daripada kontribusi faktor-faktor yang lain . Besarnya kontribusi terhadap pemanasan global disebut dengan istilah radiative forcing. Semakin besar radiative forcing semakin besar kontribusinya terhadap pemasan global (lihat gambar di bawah).
Aktivitas manusia yang paling banyak mempengaruhi lingkungan ataupun kerusakan lingkungan tersebut merupakan fenomena nyata. Hal ini dapat diketahui salah satunya dengan melihat permintaan listrik di Indonesia terus meningkat, 10% – 15% per tahun. Entah untuk kegiatan rumah tangga, perkantoran, dan industri. Pada bulan Oktober 2005 diperhitungkan cadangan listrik di Jawa – Bali hanya tinggal 120 MW (megawatt), sementara idealnya cadangan minimum yang harus tersedia 600MW (Simanjorang, 2010). Hal ini telah menandakan cadangan energy semakin menipis. Sehingga, PLN sering memberlakukan pemadaman bergilir. Lebih-lebih di era globalisasi ini dimana informasi sangat penting dan menjamurnya dunia internet dikalangan pelajar, pebisnis maupun masyarakat pada umumnya.
Nawala Departemen Pendidikan Nasional mencatat, pengguna komputer di  Indonesia saat ini sebanyak 40 juta. Dari jumlah tersebut lebih dari separuhnya telah terkoneksi dengan internet. hal ini tentunya akan mendorong kebutuhan energy listrik yang semakin meningkat. Menurut InternetWorldStats, Indonesia memiliki jumlah populasi pada tahun 2009 sebesar 240.271.522 penduduk dengan jumlah pengguna internet sebesar 25.000.000 penduduk per Mei 2008 pada tingkat penetrasi 10.4% menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia).

Hal ini merupakan salah satu fenomena betapa jumlah populasi ini menjadi penyebab beralihnya gaya hidup masyarakat di bidang teknologi, khususnya penggunaan laptop/notebook. Bagaimana tidak, menjamurnya masyarakat yang membawa laptop untuk aktivitas sehari-sehari merupakan suatu kebutuhan layaknya sandang dan pangan. Pergeseran nilai budaya ini sebanding dengan maraknya teknologi yang murah, mudah, dan menjanjikan. Internet merupakan salah satu pemicu masyarakat untuk beralih ke gaya hidup yang dilingkupi kemudahan melalui tren Teknologi Informasi. Bahkan, Indonesia sudah menembus angka 294.500 pengguna koneksi internet broadband per Juni 2009 menurut ITU (International Telecommunication Union). Sehingga, menurut data ITU dan APJII, dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu alasan masyarakat untuk memanfaatkan laptop karena adanya eksistensi internet. Jelas tidak disangkal bahwa kedepannya, masyarakat akan lebih memilih teknologi untuk memanjakan hidupnya dan sebagai salah satu bagian dari gaya hidup di era digitalisasi (Wahyudiarto, 2010).
Kemajuan teknologi informasi di Indonesia saat ini mulai pesat, perilaku boros dalam menggunakan energi akan menambah dampak dari pemanasan global. Tentunya hal ini harus dibarengi oleh penggunaan teknologi informasi yang ramah lingkungan. Green computing merupakan salah satu strategi jitu untuk penggunaan sumber daya computer secara efisien.
1.2       Ruang Lingkup
1.    Memberikan informasi tentang Green Computing
2.    Cara-cara menerapkan Green Computing dan manfaatnya

1.3       Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan yang telah dijelaskan pada latar belakang, maka Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan pada Green Computing. Serta dapat memberikan manfaat kepada para pembaca tentang kegunaan Green computing. bahaya dari limbah elektronik dan memulai untuk menerapkan Green Computing

1.4       Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1.    Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan penulisan ini.

2.    Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menganalisis dan me-review perkembangan green computing yang ada di Indonesia.

1.5       Sistematika Penulisan

BAB I         : Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II        : Landasan Teori
Dalam bab ini akan menguraikan teori atau konsep yang melandasi hal-hal yang terdapat dalam penelitian ini, secara umum dijelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan kinerja sistem informasi baik dikutip dari berbagai referensi maupun hasil riset yang didapat.
BAB III       : Pembahasan

BAB IV      : Penutup


BAB II
LANDASAN TEORI
Menurut Enterprise Management Associates white paper (2008: 3) berjudul “Green Computing: Using IT Automation to Achieve Energy Efficiency”, green computing adalah sebuah praktik dalam mengimplementasikan prosedur dan kebijakan yang meningkatkan efisiensi dari pemakaian komputer dengan berbagai cara untuk mengurangi dampak dari pemanfaatan komputer tersebut.

Menurut Leonhard dan Murray (2009: 8) green computing adalah cara pemakaian sistem komputer secara efektif dan efisien, pemanfaatan konsumsi energi dan bertanggung jawab atas pembuangan komponen yang sudah tidak dibutuhkan.

Menurut Mathew (2008: 6) pada laporan seminarnya, green computing adalah sebuah pembelajaran dan praktik dari penggunaan komputer secara efisien. Tujuan utama dari green computing ini adalah untuk mengurangi pemakaian material berbahaya, memaksimalkan efisiensi energi sepanjang umur produk, dan mengajukan produk yang dapat didaur ulang. 
Menurut Chakraboty (2009: 33) dalam jurnalnya mengatakan bahwa green computing adalah sebuah praktik menggunakan energi komputer secara efisien.

Menurut Australian Information Industry Association (AIIA) (2009: 9) green TI merupakan sebuah agenda dalam melakukan pemakaian energi secara efisien.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Green Computing
Green Computing adalah pengurangan pemakaian listrik dan pembuangan limbah lingkungan secara berlebihan ketika menggunakan komputer. Orang-Orang menggunakan dan sering memboroskan sumber-sumber daya seperti listrik dan kertas ketika menggunakan komputer.

Istilah Green Computing itu sendiri muncul dengan booming-nya Energy Star, khususnya mengarah ke bagaimana kita bisa efisien dalam konsumsi energi pada penggunaan produk computing. Saat itu dimulai pada tahun 1992 US Environmental Protection Agency merelease program Energy Star, yaitu program promosi dan penghargaan bagi penerap efisiensi energi pada teknologi monitor, pengontrol iklim, dan teknologi lain.

Landasan pergerakannya adalah kebutuhan akan  economic viability (keberlangsungan hidup), social responsibility (tanggung jawab sosial) dan environmental impact (pengaruh lingkungan).
Lima kata kunci yang muncul dari beberapa definisi diatas adalah, sustainability, environmental friendly, energi efficient, resource efficient dan reduce useless work. Ternyata Green Computing tidak hanya membahas tentang energy consumption, tapi juga bagaimana kita bisa menggunakan komputer beserta berbagai tool dan kontennya dengan lebih efisien dan jelas manfaatnya.

3.2 E - Waste dan Bahayanya
E-waste adalah sampah atau limbah berupa perangkat atau barang elektronik yang dibuang karena usang atau rusak . Sampah ini harus mendapat perhatian lebih karena mengandung bahan beracun berbahaya (B3).

Limbah elektronik ini setiap tahunnya mengalami peningkatan mengingat tumbuh pesatnya penggunaan barang elektronik,seperti ponsel, tv atau komputer. Menurut data PBB, setiap tahun antara 20-50 juta ton limbah elektronik (e-waste) dibuang tanpa diproses dengan cara yang ramah lingkungan.

Permasalahannya adalah pengelolaan untuk sampah elektronik ini tidaklah mudah. Pada daur ulangnya tetap akan menjadi masalah karena barang elektronik dan proses daur ulangnya terdapat bahan beracun dan dapat menyebabkan kanker.

Bahan beracun yang terkandung dalam sampah elektronik antara lain timah, air raksa dan kadmium.Sedangkan bahan yang dapat menyebabkan kanker dalam sampah elektronik adalah polychlorinated biphenyls (PCBs) ataupun chlorofluorocarbon (CFC).

E-waste bisa menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan manusia karena merupakan sumber toksik, termasuk zat karsinogenik di dalamnya. Apabila dibuang secara langsung tanpa melalui pengolahan, zat dari e-waste yang ada dapat meresap ke dalam tanah, ke air, dan akhirnya dapat mencemari lingkungan sekitar kita sendiri.

Negara-negara maju sendiri daur ulang dan pembuangan sampah elektronik mengandung resiko tinggi bagi pekerja dan masyarakat .  Sehingga memerlukan kehati-hatian agar tidak terjadi paparan yang tidak aman dalam proses daur ulang tersebut.

Saat ini memang belum banyak yang menyediakan tempat pengumpulan limbah elektronika di Tanah Air seperti yang telah dikkukan di negara lain.
Seperti Kota Guiyu, China, adalah rumah bagi 5500 industri rumahan yang mengolah bagian-bagian dari elektronik bekas. Berdasarkan data dari situs lokal, wilayah tersebut setiap tahunnya mengolah sekitar 1.5 juta pon sampah yang terdiri dari sampah komputer, ponsel maupun perangkat elektronik lainnya. Industri tersebut menjadi lapangan pekerjaan yang menggiurkan bagi masayarakat di Guiyu.

Kebanyakan ponsel dan perangkat komputer tua dibongkar dan komponen metal di dalamnya didaur ulang, akan
tetapi menjalankan proses daur ulang ini secara aman membutuhkan waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu banyak produsen elektronik yang mengirimkan elektronik bekas keluar negeri, di mana alat-alat ini dibakar tanpa mempedulikan linkungan dan kesehatan manusia di sekitarnya.

Hampir 80% dari peralatan elektronik bekas yang diolah berasal dari luar China, terutama sekali dari Amerika,
satu-satunya negara industri yang menolak menandatangani perjanjian Basel yang dibuat untuk mengatur ekspor limbah berbahaya ke negara-negara berkembang untuk didaur ulang. Mereka memilih membuang sampah elektronik di Guiyu dan tempat lain yang serupa di India dan wilayah Afrika, karena biayanya yang murah dan mekanismenya yang lebih mudah, di mana perusahaan tidak terikat peraturan daur ulang yang ketat. Mereka mengolah sampah elektronik dengan memisah-misahkan tiap bagian dan mengelompokkannya, kemudian mengambil kandungan timah, emas, tembaga dan jenis logam lainnya dari papan sirkuit, kabel, chip dan bagian lain dari perangkat elektronik. Pekerja juga memanaskan papan komputer di atas lapisan besi untuk mengambil timah solderan dari chip komputer. Industri kecil ini mempekerjakan 10.000 orang yang kebanyakan masih di bawah umur. Bisa dibayangkan akibat dari komponen elektronik yang mengandung merkuri dan racun yang berbahaya terhadap mereka.
Laporan kesehatan dari wilayah Guiyu menyebutkan banyak anak-anak yang menderita karena tingginya tingkat pencemaran lingkungan akibat timah. Kemudian laporan dari universitas Shantou, Guiyu memiliki tingkat penderita penyakit kanker yang disebabkan oleh dioksin paling tinggi di dunia dan peningkatan pada kasus keguguran pada wanita hamil. Industri semacam ini banyak menghasilkan pencemaran lingkungan karena banyak membuang limbah hasil olahan, terutama debu dari pembakaran batu bara yang langsung dibuang ke sungai dan selokan kota, menyebabkan pencemaran terhadap air sumur dan air tanah.
Setiap tahun, sampah elektronik di seluruh dunia mencapai 36 juta metrik ton. Artinya, 36 kali lebih banyak dari
jumlah batubara yang diekspor dari Kalimantan Selatan ke Cina setiap tahun. Itu baru catatan tahun lalu dari Badan PBB untuk masalah lingkungan, UNEP. Sampah ini lantas dilimpahkan ke negara berkembang sebagai tempat sampah elektronik. Salah satunya Indonesia.
Cara-cara untuk melakukan Green Computing
  1. Green Computing on PC
·         Laptop hanya memerlukan 10% energi yang digunakan Desktop. Flat screen hanya menggunakan 30% energi yang digunakan oleh Monitor CRT
·         Coba upgrade RAM, sebelum memutuskan ganti komputer. Komputer lambat bisa karena kotornya registry atau ada background services yang berjalan padahal sebenarnya tidak kita perlukan. Cek dan matikan services yang sedang berjalan padahal tidak perlu itu. Misalnya untuk Windows jalankan Start > Run > type “msconfig”
·         Menggunakan PC dan printer dengan merk dan jenis sama memudahkan kanibalisme dan proses recycle
·         Matikan komputer ketika tidak digunakan (malam hari). Mematikan komputer akan mengurangi umur komputer adalah mitos yang salah
·         Screen saver is not energy saver. Pilih matikan monitor daripada menggunakan screen saver
·         Pilih virtualisasi daripada pembelian hardware baru (hemat 70% energi)
·         Pilih peripheral berlogo energy star
·         Catat bahwa mode power menentukan prosentase hemat energi (Sleep mode – hemat 70% energi, Standby mode – hemat 90% energi, Hibernate mode – hemat 98% energi)
·         Jangan cepat membuang PC, lakukan recycle atau donasi ke pihak lain apabila sudah tidak digunakan.

  1. Green Computing on Laptop
·         Gunakan power saving setting
·         Kurangi penggunaan backlight
·         Atur layar dan harddisk sleep/off setelah beberapa menit tanpa penggunaan
·         Matikan bluetooth dan wifi ketika tidak digunakan
·         Lepas kartu MMC, SD, USB Flash apabila tidak digunakan
·         Kecilkan volume suara dan kontras layar
·         Minimalisir penggunaan IrDA (infrared) atau serial communication, karena boros energi
·         Upgrade RAM sebelum ganti laptop
·         Jangan cepat membuang Laptop, lakukan recycle atau donasi ke pihak lain apabila sudah tidak digunakan

  1. Green Computing on Paperless Method
Usahakan menggunakan paperless method untuk berbagai urusan kita karena itu mengurangi sampah carbon footprint. Apabila memungkinkan kembangkan dan terapkan Document Management System, Electronic Invoicing dan Electronic Business Process pada institusi kita.

  1. Green Computing on Paperless Education
·         Hindari kertas, gunakan file elektronik or blog untuk pengumpulan laporan dan tugas
·         Lupakan cara konvensional, gunakan eLearning System untuk penyebaran modul ajar, forum diskusi dan assesment
·         Gunakan Chatting dan Social Networking untuk mendukung pembelajaran. Ingat bahwa chatting untuk pacaran or godain orang, are not Green Computing!

  1. Green Computing on Paperless Branding and Marketing
·         Lupakan kartu nama, CV, koran dan majalah untuk personal branding
·         Lakukan blogging untuk personal branding, marketing, bisnis bahkan influencing people
·         Manfaatkan google sebagai kurir dan salesman kita dalam marketing dan branding

Penerapan Green Computing dalam kehidupan sehari-hari

1.    Green Computing Pada Data Center
Data Center memiliki beberapa permasalahan, yaitu mahalnya biaya maintanence, biaya operasional lalu ada juga Permasalahan pada konsumsi listrik, pendingin, dan ruangan. Namun dengan penerapan green computing hal itu dapat diselesaikan dengan penerapan berbagai hal berikut:
·         Teknologi Server Hemat Energi
Yaitu dengan pengaturan clock processor, jika task tidak banyak , maka clock processor dikurangi. Hal ini berguna untuk efisiensi kinerja processor.Teknologi ini terdapat pada Intel (speedstep), AMD (coolnow), Sun Microsystem (coolthread).Keuntungan yang diperoleh dengan teknologi ini adalah hemat energi, karena panas rendah. Dengan panas rendah, maka energi pendingin yang dibutuhkan juga rendah.
·         Teknologi Virtualization
Dengan Teknologi Virtualization dari sebuah mesin didalamnya memiliki tiga mesin namun secara virtual keuntungan yang didapat dengan teknologi ini adalah hemata ruang, energy, kabel, dan optimalisasi mesin.
·         Teknologi Blade Server
Teknologi ini yaitu teknologi yang membuat tampilan server dengan bentuk fisik horizontal, dikarenakan Bentuk ini dirasa lebih hemat ruang, kabel, dan energi dibandingkan bila bentuk fisiknya vertikal.
·         Data Center Power Efficiency Metrics
Yaitu adalah teknologi untuk penghematan penggunaan energi , dengan dua parameter: PUE (Power Usage Efficiency), DCE (Data Center Efficiency).Hasil pengukuran Lawrence Berkeley National Labs terhadap 22 data center, menunjukkan nilai PUE antara 1,3 hingga 3,0.

2.    Green Computing Pada Workstation
Biasanya pada sebuah perkantoran workstation merupakan penyedot energy terbesar, namun dengan solusi berikut yang berpatokan pada green computing hal tersebut dapat diakali :

·         Teknologi Power Management
Teknologi yang terdapat pada BIOS ini melalui ACPI (Advanced Configuration & Power Interface) akan memotong penggunaan energ rata-rata sebesar 25% konsumsi energy.

·         Tim Klien
Dengan Tim Klien konsumsi energi hanya sebesar 50%

·         Ganti Desktop PC Dengan Laptop
Dengan pergantian Desktop PC dengan laptop jelas penggunaan energy pada workstation akan berkurang besar, dikarenakan konsumsi energy laptop lebih kecil.

3.    Green Computing Pada Lingkungan kerja
Dengan penerapan green computing pada lingkungan kerja kita dapat menghemat biaya maintenance, operasional, energy, dan juga transportasi. Untuk penerapanya ada 3 pilihan :
Skype, solusi voip
Solusi IM (Instant Messaging)
Solusi unified communication (voip + IM)

4.    Green Computing Pada Diri Sendiri
Green computing pada diri sendiri adalah hal yang kita bisa lakukan pada sehari harinya, misalnya dengan menggunakan komputer daur ulang atau menggunakan komputer dulu yang di upgrade specnya, menggunakan kertas daur ulang untuk memprint, gunakan layar monitor seperlunya. Inti dari green computing pada diri sendiri adalha penggunaan energy secara hemat dan efisien.

Manfaat Green Computing
·         Menghemat daya dan Hemat listrik
·         memperpanjang usia perangkat computer
·         mengurangi emisi karbondioksida
·         membutuhkan sedikit hardware
·         Penghematan kertas
·         Terhindar dari Krisis listrik berlanjut
·         Memelihara Lingkungan agar menjadi lebih baik
·         Ramah lingkungan

BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
4.2  Saran

DAFTAR PUSTAKA







No comments:

Post a Comment