Thursday, April 10, 2014

Technopreneur


Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi

TECHNOPRENEUR

Oleh

Muhamad Ridwan Putra       : 1501156383
Indra Pratama                         : 1301014413
Joel                  :

ABSTRAK
Technopreneur adalah gabungan dari kata technique dan entrepreneur yang artinya adalah orang yang mempunyai skill di bidang teknologi namun dapat membaca peluang usaha di bidang teknologi .Angka kelahiran technopreneur tampaknya kian meningkat dari hari ke hari. Jika datang ke pameran-pameran dan presentasi teknologi informasi (TI), maka akan didapati presenter presenter yang masih muda, tetapi tampil visioner, futuristik, bersemangat, energik, penuh gagasan, dan piawai dalam mendemonstrasikan kemampuannya untuk mengoperasikan dan memanfaatkan TI dalam berbagai bidang. Kelahiran para technopreneur itu banyak didasari dengan sejumlah latar belakang, antara lain: idealisme untuk menciptakan lapangan kerja baru, mengubah peran teknologi tidak hanya sebagai alatbantu saja, melainkan sebagai sumber bisnis, menggali potensi diri untuk hidup mandiri, memiliki kebebasan berkreasi dan pendapatan tidak terbatas. Maka pada karya tulis ini,penulis akan membahas tentang perkembangan Perkembangan Technopreneurship Dan Peranan Technopreneur Serta Pengaruh Teknologi Untuk Dunia Bisnis
Kata kunci : Technopreneurship, Technopreneur
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang begitu pesat pada beberapa tahun terakhir inisangat mempengaruhi iklim bisnis di seluruh belahan dunia. Saat ini teknologimerupakan pendukung utama bagi setiap bisnis untuk meningkatkan kualitasnyaatau sekedar untuk bertahan di era globalisasi. Setiap lini di dunia bisnis selalu eratkaitanya dengan teknologi. Mulai dari proses produksi hingga proses pendistribusian tidak akan lepas dari teknologi.Perkembangan teknologi ini merupakan tantangan bagi para pelaku bisnis.Mereka mempunyai dua pilihan, yaitu apakah akan menerapkan teknologi dalamdunia bisnis mereka atau tetap bertahan dengan sistem bisnis yang konvensional.Secara tidak langsung hal ini mengakibatkan pergeseran dari seorang entrepreneur menjadi seorang technopreneur . Orang yang siap dan mampu menggabungkanteknologi dengan bisnis yang mereka jalankan inilah yang disebut dengan technopreneur .
Banyak sekali keuntungan yang didapatkan jika kita bisamemasukan unsur-unusur teknologi ke dalam sistem bisnis yang ada. Mulai darikemudahan produksi, efesiensi dan efektifitas sumber daya, hingga kemudahanakses dalam proses pendistribusian. Seorang technopreneur  juga merupakan orang yang bisa memanfaatkan berbagai peluang dari pesatnya perkembangan di dunia teknologi. Bagi sebagianorang mungkin peluang-peluang tersebut tidak nampak sama sekali, tapi bagi technopreneur peluang itu seolah-olah justru datang menghampiri mereka.
1.2 Ruang lingkup
·         Menjelaskan elemen penting untuk bisa menjadi proses pembentukan technopreneur
1.3 Tujuan dan Manfaat
            Tujuan :
·         Menjelaskan elemen yang berkaitan dengan usaha berbasis teknologi
Manfaat :
·         Agar perusahaan bisa memenangkan persaingan competitor yang semakin ketat.
1.4 Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1.      Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan penulisan ini.
2.      Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menganalisis dan me-review perkembangan perpustakaanyang ada di Indonesia.
1.5 Sistematika Penulisan
            BAB I             : Pendahuluan
Pada bab pendahuluan diuraikan masalah yang akan dibahas yang terdiri dari latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat pembahasan, metodologi yang digunakan dan sistematika penulisan.
            BAB II                        : Landasan Teori
Pada bab ini berisikan tentang beberapa teori atau konsep yang didapatkan dari media internet ataupun buku untuk mendasari penulisan penelitian ini.
            BAB III          : Pembahasan
Pada bab ini menjelaskan elemen-elemen penting tentang bagaimana menjadikan teknologi sebagai suatu dasar dalam suatu bisnis
BAB IV          : Penutup
                        Berisikan tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Teknologi
2.2 Pengertian Enterprise
Menurut Bernard (2005, p55), enterprise adalah area dari aktivitas dan tujuan umum dalam sebuah organisasi, dimana informasi dan sumber daya lainnya yang di pertukarkan. Enterprise biasanya terdiri dari komponen vertical, horizontal, dan extended. Komponen vertikal (juga dikenal sebagai Line of bussiness atau segments) adalah daerah kegiatan yang khusus untuk satu baris bisnis (misalnya, penelitian dan pengembangan). Komponen horizontal (juga dikenal sebagai crosscutting enterprise) adalah daerah yang lebih umum dari aktivitas yang melayani beberapa baris bisnis. Extended components terdiri lebih dari satu organisasi (misalnya, extranets dan supply chain).
2.3 Pengertian Technopreneurship
Menurut Antonius Tanan(2008,p97), istilah technopreneurship merupakan gabungan dari dua kata yakni teknonolgi dan enterpreneur. Kata teknologi berasal dari bahasa yunani yang berarti tindakan sitematis dari sebuah kecakapan, termasuk seni. Sedangkan enterpreneur merupakan tindakan komersialisasi terhadap suatu produk. Sehingga Tanan menyimpulkan bahwa technopreneurship merupakan suatu proses komersialisasi produk-produk teknologi yang kurang berharga menjadi berbagai produk yang bernilai tinggi sehingga menarik minat konsumen untuk membeli atau memilikinya.
Menurut Eddy Soeryanto(2009: 16) Technopreneurship (teknologi Entepreneurship) merupakan bagian dari Entrepreneurship yang menekankan pada faktor teknologi yaitu kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam proses bisnisnya.
BAB III
PEMBAHASAN
Memahami technological entrepreneurship atau technopreneurship dapat juga dilakukan dengan mengidentifikasi elemen-elemen kunci yang memiliki keterkaitan dengan proses pembentukan usaha berbasis teknologi, Igor Prodan (2007) mengidentifikasi, elemen itu adalah :
1.      Technological entrepreneur
2.      Universities
3.      Corporation
4.      Capital
5.      Market/costumers
6.      Government
7.      Advisor

1.      Technological entrepreneur, atau wirausahawan berbasis teknologi.
Elemen ini menjadi kunci penciptaan perusahaan berbasis teknologi, wirausahawan ini pada dasarnya adalah orang yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan karakteristik khusus yang berbeda dengan wirausahawan bukan berbasis teknologi, sebagai contoh misalnya wirausahawan yang menguasai kemampuan teknologi informasi seperti komputer dan menjalankan internet. Pengetahuan dan keahlian ini dapat di pelajari di lembaga lembaga pendidikan khususnya yang membuat kerangka keterkaitan antara teknologi dengan kewirausahaan.
Faktor lain yang harus ada dalam wirausahawan ini adalah faktor motivasi yang kuat untuk menguasai teknologi, setidaknya faktor ini dimuali dengan motiv untuk memulai bisnis karena ingin ‘tidak terikat’ yang menyangkut keinginan sebagai orang bebas dan dapat mengontrol, ’kesejahteraan’ dan ‘ekploitasi’.
2.      Universities, atau Perguruan Tinggi
Unversitas atau institusi pendidikan tinggi lainnya adalah elemen penting sebagai tempat lahirnya pengetahuan dan kelmuan yang baru termasuk didalamnya teklogi dan kewirausahaan. Untuk dapat menciptakan technopreneur setidaknya dalam institusi pendidikan tersebut harus memiliki kerjasama yang kuat antara bagiannya misalnya kerjasama fakultas teknik dengan fakultas bisnis (ekonomi), atau bahkan atar universitas untuk mengadakan pendidikan dan pelatihan tentang technopreneurship.
3.      Corporation, atau Perusahaan
Perusahaan juga memiliki peran dalam penciptaan wirausaha berbasis teknologi, perubahan paradigma dari menempatkan karyawan hanya sebagai faktor produkai ke arah konsepsi “intrapreneurship” atau wirausaha dalam perusahaan akan berdampak pada peningkatan performa bisnis perusahaan tersebut, perusahaan menjadi lebih inovatif dan pekerja lebih produktif. Konsepsi dasar intrapreneurship berbasis pada riset dan pengembangan dalam perusahaan akan mendorong stabilitas perusahaan,
4.      Capital,atau Modal
Faktor yang tidak kalah pentingnya dalam pengembangan tecnopreneurship adalah capital atau modal, keberanian mengambil resiko dalam berusaha menunjukan salah satu sisi sifat wirausahawan maju termasuk menggunakan modal pihak ketiga untuk meningkatkan usahanya.
Banyak cara untuk memperoleh dana pihak ketiga dalam usaha berbasis teknologi ini, seperti saudara atau teman, tapi itu tidak akan cukup untuk mengembangkan usaha menjadi lebih besar hubungan dengan bank, pemerintah dan lembaga keuangan lain mutlak di perlukan. Pada kondisi ini yang harus ditanamkan adalah prinsip harus melunasi pinjaman dan membuat usaha lebih maju.
5.      Market/costumers, atau pasar/pengguna
Fokus pengembangan usa apapun harus lepada pengguna, walapun wirausaha berbasis teknologi memiliki fokus pada pengembangan teknologi dan produksi berbasis teknologi fkus pada pelanggan merupakan suatu keharusan, preusan memerlukan feedback dari pasar untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. Wirausahawan juga di tuntut untuk menciptakan komersialisasi dan pemasaran produk berbasis teknologi tinggi, meningkatkan pemasaran dengan strategi pertumbuhan, memperluas pasar dan lanilla yang berkaitan dengan isu-isu pemasaran.
6.      Government atau pemerintah
Peranan pemerintah harus menjadi pendorong percepatan perusahaan, menjadi stimulus bagi perubahan kapasitas usaha dari kecil menjadi menengah dan besar. Membangun Usaha Kecil Menengah dapat dilakukan dengan : 1. kebjakan makroekonomi, khususnya dalam staibilitas lingkungan bisnis; 2. peraturan khusus dalam pengembangan UKM; 3. pendukung perkembangan dan membantu permasalahan UKM dan 4. mempromosikan bisnis UKM dan membangun kultur usaha kompetitif.
Pemerintah juga dituntut untuk mendorong aspek utama pengembangan UKM menjadi lebih sukses, yaitu dengan mengkombinasi aspek : kebijakan (menjadi kesatuan kebijakan), mendorong peningkatan institusional/organisasional dari UKM sendiri dan membuat program pelayanan pengembangan UKM. Permasalahan pengembangan UKM yang belum focus dan berubah-ubah dengan berbagai pendekatan dan berbagai instansi yang terlibat menjadi tidak efektif, maka pemerintah harus menciptakan kebijakan yang terpadu dan mengatur kebijakan untuk lebih komprhensif dan terarah.
7.      Advisor, atau konsultan
Hasil penelitian Bolton, menemukan tiga permasalahan utama yang dihadapi oleh UKM yang memungkinkan diselesaikan dengan pengadaan pelatihan dan konsultansi, yaitu :
a.       Information gap, wirausahawan biasanya memiliki keterbatasan tentang informasi pasar dan permasalahan bisnis sehingga mungkin melakukan kesalahan pengambilan keputusan, konsultan dapat memberikan advis dalam hal proses penyaringan informasi sebagai bahan pengambilan keputusan.
b.      Problem solving and technical capabilities, wirausahawan dalam perusahaan berbasis teknologi dapat menghadapi berbagai masalah termasuk kemampuan teknologi yang baru, peran konsultan dapat masuk sebagai pengarah pemampaatan peningkatan kemampuan teknis yang berkaitan dengan teknologi.
c.       Learning gap, Permasalahan yang juga sering di hadapi oleh wirausahawan adalah proses pembelajaran, terutama berkaitan dengan transper pengetahuan kepada bawahan atau karyawan, peran konsultan dalam memberikan advis dalam pembelajaran sangat di perlukan, termasuk dalam menyelenggarakan pelatihannya.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Tuesday, March 25, 2014

Perpustakaan Digital


Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi

Perpustakaan Digital



Oleh

Bhima              :
Malcolm          :
Muhamad Ridwan Putra       : 1501156383
Joel                  :

ABSTRAK
Perpustakaan sebagai sumber sarana tempat penyimpanan informasi dan penelitian. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan dunia teknologi yang mengharuskan agar terciptanya perpustakaan modern. Perpustakaan digital sebagai tempat penyimpanan koleksi berupa format digital dan tempat pertukaran infomsai melalui jaringan internet. Tidak seperti halnya perpustakaan konvensional, perpustakaan digital melebihi banyak keunggulan yang bisa memudahkan orang dalam mendapatkan informasi. Pembangunan perpustakaan digital tidak luput dari masalah-masalah yang menghambatnya.
Kata Kunci : perpustakaan, perpustakaan digital, masalah pembangunan perpustakaan digital


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
“The library is a growing organism”. Demikianlah bunyi dalil kelima Ranganathan yang digunakan untuk mencitrakan perpustakaan. Bagi Keren Barner (2011) dapat dikaitkan dengan gagasan yang dicetuskan oleh Charles Darwin (teori revolusi), yakni cara pandang naturalis yang meyakini bahwa makhluk hidup dapat bertahan serta berhasil melalui seleksi alam bila ia mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Perpustakaan sebagai tempat yang terus berubah sepanjang perjalanan sejarah, tak luput bagi para pustakawan untuk menghadirkan terobosan baru. Pendit (2009) menjelaskan bahwa perpustakaan adalah institusi yang terus mengalami perubahan, adaptif dengan perkembangan
teknologi, kendati relatif tak mengalami banyak perubahan tradisi aktivitas pokoknya sebagai penghimpun, penyimpan, serta penyedia rekaman pengetahuan.
Perpustakaan Digital atau yang bisa kita kenal Digital Library atau Virtual Library adalah suatu institusi yang menyimpan berbagai macam koleksi berupa digital secara terstruktur yang dapat disajikan melalui media internet. Dengan adanya perpustakaan digital yang bisa kita dapatkan dengan cara yang dinamis, diharapkan pendidikan yang ada pada masa sekarang ini bisa berkembang juga.
1.1  Ruang Lingkup
1.      Memberikan pemahaman tentang perpustakaan digital
2.      Menjelaskan masalah dalam mengembangkan perpustakaan digital

1.2  Tujuan dan Manfaat
Tujuan :
·         Menjelaskan pengertian perpustakaan digital
·         Menjelaskan perbedaan perpustakaan konvensional dan perpustakaan digital beserta kelebihannya
·         Menguraikan masalah dalam mengembangkan perpustakaan digital.
Manfaat :
Mengetahui pentingnya perpustakaan digital, manfaatnya, kelebihannya


1.3  Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1.    Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan penulisan ini.

2.    Metode Analisis
Pada metode ini penulis menganalisa dari apa yang sudah dicari melalui internet.
1.4  Sistematika Penulisan

BAB I       : Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
BAB II      : Landasan Teori
Dalam bab ini menguraikan beberapa teori atau konsep yang melandasi hal-hal dalam penelitian ini yang didapatkan melalui internet ataupun buku.
BAB III    : Pembahasan
Dalam bab ini menjelaskan bagaimana manfaat, tujuan serta masalah yang dihadapi dalam mengembangkan perpustakaan digital.
BAB IV    : Penutup
Dalam bab ini berisikan kesimpulan dan beberapa saran

BAB II
LANDASAN TEORI
3.1 Pengertian Perpustakaan
Menurut penjelasan ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ) “Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual”.
Menurut RUU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan bahwa “Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan”.
3.2 Sejarah Perpustakaan Digital
Gagasan yang muncul pertama kali sebagai dasar konsep perpustakaan digital muncul pada bulan Juli tahun 1945 oleh Vannevar Bush. Beliau mengeluhkan penyimpanan informasi manual yang menghambat akses terhadap penelitian yang sudah dipublikasikan. Untuk itu, Bush mengajukan ide untuk membuat catatan dan perpustakaan pribadi (untuk buku, rekaman/dokumentasi, dan komunikasi) yang termekanisasi.
Selama dekade 1950-an dan 1960-an keterbukaan akses terhadap koleksi perpustakaan terus diusahakan oleh peneliti, pustakawan, dan pihak-pihak lain, tetapi teknologi yang ada belum cukup menunjang.
Pada awal 1980-an fungsi-fungsi perpustakaan telah diotomasi melalui perangkat komputer, namun hanya pada lembaga-lembaga besar mengingat biaya investasi yang tinggi. Misalnya pada Library of Congress di Amerika yang telah mengimplementasikan sistem tampilan dokumen elektronik (electronic document imaging systems) untuk kepentingan penelitian dan operasional perpustakaan.Dari sudut pandang pengguna, komputer bukanlah bagian dari fasilitas manajemen perpustakaan melainkan hanya pelayanan untuk digunakan staf perpustakaan.
Pada awal 1990-an hampir seluruh fungsi perpustakaan ditunjang dengan otomasi dalam jumlah dan cara tertentu. Fungsi-fungsi tersebut antara lain pembuatan katalog, sirkulasi, peminjaman antar perpustakaan, pengelolaan jurnal, penambahan koleksi, kontrol keuangan, manajemen koleksi yang sudah ada, dan data pengguna. Dalam periode ini komunikasi data secara elektronik dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya semakin berkembang dengan cepat. Pada tahun 1994, Library of Congress mengeluarkan rancangan National Digital Library dengan menggunakan tampilan dokumen elektronik, penyimpanan dan penelusuran teks secara elektronik, dan teknologi lainnya terhadap koleksi cetak dan non-cetak tertentu. Selanjutnya pada September 1995, enam universitas di Amerika diberi dana untuk melakukan proyek penelitian perpustakaan digital.
2.2 Pengertian Perpustakaan Digital menurut para ahli
Menurut Arms (2000), “Perpustakaan digital adalah suatu koleksi informasi digital yang disusun secara sistematis yang disajikan dan dapat diakses menggunakan jaringan computer”.
Menurut Lesk (1997): “Perpustakaan Digital adalah koleksi informasi digital yang terorganisir. Ia merupakan kumpulan berbagai kombinasi informasi, arsip bersejarah berupa digital terstruktur yang disajikan dengan jaringan komputer”.
Menurut Pendit (2009) “Perpustakaan adalah institusi yang terus mengalami perubahan, adaptif dengan perkembangan teknologi, kendati relatif tak mengalami banyak perubahan tradisi aktivitas pokoknya sebagai penghimpun, penyimpan, serta penyedia rekaman pengetahuan”.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Perpustakaan Digital (Digital Library)
Pendit (2008: 3) menerjemahkan definisi perpustakaan digital dari DFL sebagai berikut :
“Perpustakaan digital adalah berbagai organisasi yang menyediakan sumberdaya, termasuk pegawai yang terlatih khusus, untuk memilih, mengatur, menawarkan akses, memahami, menyebarkan, menjaga integritas, dan memastikan keutuhan karya digital, sedemikian rupa sehingga koleksi tersedia dan terjangkau secara ekonomis oleh sebuah atau sekumpulan komunitas yang membutuhkannya.”
Berdasarkan penjelasan yang dipaparkan oleh Pendit, penulis menyimpulkan perpustakaan digital adalah suatu institusi yang berisikan kumpulan-kumpulan informasi dari berbagai sumber berupa digital yang memudahkan mereka dalam mencari informasi yang dibutuhkan.
kita bisa mengetahui bahwa dengan perpustakaan digital, kunjungan mereka (baik kunjngan ke lokasi fisik maupun ke situs internet) bisa lebih efektif dan efisien. Namun, bagaimana koleksi digital itu dimanfaatkan, semua tergantung dari manusia itu sendiri apakah akan memanfaatkan fasilitas perpustakaan digital atau tidak. Karena masih banyak dari kita yang tidak mengerti akan teknologi informasi. Dan tergantung bagaimana informasi tersebut dibuat, diorganisasikan dan disajikan sehingga bisa lebih dimengerti oleh mereka yang buta akan teknologi informasi.
Selain itu, perpustakaan digital bukan hanya sebagai manajemen pengetahuan dan informasi, tetapi juga sebagai sumber informasi yang mulai diharapkan untuk menjalankan peranan dalam mengembangkan pendidikan.
3.2 Jenis-jenis perpustakaan digital
1.      Full Text.
·         Pengolahan dan manipulasi data lebih mudah
·         Ukuran data leibh kecil
·         Data terformat dalam bentuk SGML (Standard Generalized Markup Language)
2.      Page Image.
·         Sesuai untuk system Browsing
·         Tidak memerlukan font karena berupa file image
3.3 Perpustakaan Tradisional dan Perpustakaan Digital
“Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.” Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perpustakaan ialah suatu institusi yang menyimpan berbagai koleksi yang berupa non digital (cetak).
Kelebihan Perpustakaan Digital daripada Perpustakaan Konvensional
·         Menghemat ruangan
Dengan koleksi buku-buku berupa digital maka tidak membutuhkan tempat yang luas untuk menaruh buku-buku koleksi seperti di perpustakaan konvensional.
·         Memiliki beberapa akses
Pada perpustakaan digital tidak mempengaruhi adanya keterbatasan dalam menggunakan buku-buku koleksi yang tersedia. Mereka bisa menggunakan koleksi yang mereka inginkan dalam waktu yang bersamaan. Sehingga apabila buku yang mereka inginkan digunakan oleh orang lain maka mereka bisa juga mengunduh yang sama. Sedangkan pada perpustakaan konvensional, apabila buku yang mereka ingin pinjam maka mereka harus menunggu sampai batas waktu pinjam buku tersebut telah habis.
·         Tidak adanya batasan Ruang dan Waktu
Dengan perpustakaan digital setiap orang bisa mengunduh dimana saja dan kapan saja dengan jaringan internet.
·         Memiliki bentuk menarik
Pada perpustakaan digital dapat memiliki bentuk tidak hanya satu saja (gambar atau tulisan saja) dalam penyajiannya. Dikarenakan apabila orang tersebut belum memahami maksud yang terdapat pada buku tersebut, maka bisa dijelaskan dengan beberapa fungsi (video, gambar, tulisan). Contoh : pada proses menyalanya bola lampu, dengan menjelaskan aliran-aliran listrik yang mengalir dan tahap-tahap agar tidak terjadi konsleting).
·         Biaya yang murah
Dengan hanya mengunduh ebook maka biaya yang dihasilkan cukup murah bila dibandingkan membeli buku yang diinginkan karena buku tersebut dipinjam oleh orang lain.
3.4 faktor pendukung perkembangan perpustakaan digital
1.      Pada perpustakaan konvensional tidak adanya sistem komputerisasi yang dapat mempermudah seseorang menemukan buku, mengunduh, membaca bersamaan tanpa harus menunggu proses peminjaman selesai.
2.      Adanya keterbatasan ruang sehingga tidak semua koleksi bisa didapatkan pada perpustakaan konvensional
3.      Semakin banyaknya akses internet (hotspot) diberbagai tempat sehingga memudahkan mereka dalam menemukan informasi.
4.      Memiliki sistem database sehingga koleksi-koleksi tersusun dengan baik.
3.5 Faktor penghambat perkembangan perpustakaan digital
Menurut Surachman (2011) ada beberapa factor yang bisa menghambat perkembangan perpustakaan digital yaitu :
1)      Masalah Interoperabilitas
Menurut Pendit (2008: 146-147), dari sisi pandang komputerisasi, interoperabilitas merupakan salah satu hal yang paling sulit dalam upaya mengembangkan perpustakaan digital.
Pendit (2008: 149), interoperabilitas juga mengandung dimensi sosial yang dimaknai sebagai kehendak untuk bekerja sama antarpengelola perpustakaan digital dan aspek-aspek lain yang menyangkut pengguna.
2)      Soal Berkelanjutan
3)      Masalah Kebijakan
4)      Masalah Teknis lainnya
Menurut Pendit (2009: 62-63) beberapa masalah yang dihadapi pihak pengelola bila mengandalkan penyediaan akses bagi pengguna untuk memperoleh informasi antara lain:
• Sifat isi atau kandungan informasi yang semakin bersifat sementara sebab nyaris tak ada sarana untuk memastikan bahwa dokumen digital yang pernah diakses masih dapat diperoleh pada masa kini dan akan datang, karena ada kecenderungan perubahan pada pangkalan data yang pernah diakses atau karena perpustakaan tak lagi punya hak untuk menyediakan akses pada pangkalan data yang dilanggan.
• Hubungan antara perpustakaan sebagai penyedia akses dengan pemilik pangkalan data merupakan hubungan antara pelanggan dan penyedia, yang mana ada ketentuan lisensi dan konsekuensi secara finansial. Hubungan itupun bersifat sementara, dalam rentang waktu tertentu sesuai kesepakatan antara dua belah pihak yang juga disepadankan dengan jumlah anggaran. Dalam hal ini, perpustakaan yang menyediakan akses pada ribuan artikel jurnal elektronik tidaklah berarti memilikinya, hal itu hanya bersifat sementara. Bila masa hak penyediaan akses berakhir, maka berakhir pula periode “kepemilikan atas koleksi digital” tersebut.
• Pengelola perpustakaan tak dapat serta-merta mengambil dan menyimpan dokumen berupa jurnal dan buku elektronik dari pangkalan data yang dilanggan, karena ada ketentuan hak atas kekayaan intelektual berupa lisensi yang secara penuh dimiliki oleh pemilik pangkalan data, sedangkan perpustakaan hanya dapat “membeli” lisensi tersebut dalam jangka waktu tertentu. Apabila masa berlangganan berakhir, maka institusi perpustakaan dapat dipermasalahkan secara hukum apabila masih menyediakan dokumen tersebut.

3.6 Masalah pada perpustakaan digital
1.      Biaya
Suatu perubahan pastilah tidak hanya membutuhkan inovasi yang bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda tetapi juga membutuhkan ivestasi untuk mewujudkan inovasi tersebut.
2.       
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dengan adanya perpustakaan digital tidak memerlukan banyak ruang untuk menyimpan berbagai jenis koleksi. Dengan format digital memudahkan setiap orang dalam mengaksesnya. Bisa mendapatkan informasi yang mereka butuhkan kapan saja dan dimana saja dengan menggunakan jaringan internet.
4.2 Saran
Perpustakaan digital harus diperkenalkan lebih jauh ke masyarakat agar penggunaan perpustakaan digital bisa lebih efektif sehingga bisa menambah pengetahuan pada masyarakat. Adanya sarana untuk menjadi daya tarik terhadap anak-anak sehingga anak-anak senang berkunjung ke perpustakaan digital
DAFTAR PUSTAKA
Barner, Keren. 2011. The Library is a Growing Organism: Ranganathan’s Fifth Law of Library Science and the Academic Library in the Digital Era. Library Philosophy and Practice (e-journal). Paper 548.
Pendit, Putu Laxman. 2008. Perpustakaan Digital dari A sampai Z. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.
Pendit, Putu Laxman . 2009. Perpustakaan Digital: Kesinambungan & Dinamika. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.
Surachman, Arif. 2011. Jaringan Perpustakan Digital di Indonesia: Pembelajaran dari IndonesiaDLN, Jogjalib for All, Garuda dan Jogjalib.Net. Makalah dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-4, Samarinda 8-10 November 2011.


Monday, March 10, 2014

Disaster Recovery Plan


Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi

MANAGING DISASTER
RECOVERY PLAN




Oleh

Bhima              :
Malcolm          :
Muhamad Ridwan Putra         : 1501156383
Joel                  :

ABSTRAK
Disaster Recovery Plan (DRP) adalah suatu terminology yang sudah dikenal oleh perusahaan-perusahaan dimana basis bisnisnya adalah teknologi informasi (TI). Sekalipun demikian, metode DRP ini terkadang dilupakan oleh para professional TI. Padahal metode DRP adalah salah satu aspek yang sangat penting dan strategis. Pemahaman akan konsep-konsep pemulihan sangat penting dalam perencanaan dan penerapan metode DRP. Dengan memahami konsep DRP maka dapat dikembangkan solusi-solusi teknis dalam pemulihan bencana.
Kata kunci : Disaster Recovery Plan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bencana dapat terjadi kapan saja dengan berbagai macam sebab. Demikian halnya dengan Indonesia yang kerap terkena bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun yang disebabkan oleh kelalaian manusia itu sendiri. Bencana dalam dunia IT adalah kejadian yang mengakibatkan kegagalan sistem dan memberikan dampak yang membahayakan terhadap bisnis yang dijalankan. Sektor swasta di Indonesia memiliki total lebih dari 85% critical infrastructure yang perlu dilindungi. 50% dari organisasi yang pernah mengalami kegagalan sistem akibat bencana, tidak akan bertahan hidup dan 90% nya akan mati dalam 2 tahun.

Bagi dunia bisnis terjadinya bencana dapat mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit baik dari segi materi maupun immateriil. Untuk itu setiap perusahaan sebaiknya memiliki rencana berupa Disaster Recovery Planning (DRP) untuk mengatasi atau meminimalisir dampak negatif akibat terjadinya sebuah bencana. Disaster Recovery adalah perencaan untuk menghindari masalah dan kemampuan untuk menghadapi masalah ketika bencana berlangsung. Hal ini melibatkan kegiatan dan program yang dirancang untuk menghidupkan kembali suatu entitas. DRC harus menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan akan menghadapi bencana yang mungkin terjadi.

Akan tetapi, Manajemen perusahaan seringkali mengabaikan pentingnya implementasi DRP ini dengan berbagai alasan seperti kurangnya waktu dan sumber daya, kurangnya dukungan manajemen puncak, kurangnya biaya, terlalu banyak potensi bencana yang harus dipertimbangkan, kurangnya kepedulian terhadap akibat bencana bagi bisnis perusahaan, termasuk kurangnya pengetahuan mengenai DRP tersebut.

Dengan mengikuti workshop ini diharapkan para peserta mendapatkan pemahaman dan wawasan yang diperlukan tentang pentingnya dan bagaimana cara mengenmbangkan sebuah Disaster Recovery Planning di perusahannya masing-masing.

1.2  Ruang Lingkup
1.      Memberikan pemahaman tentang Disaster Recovery Plan
2.      Menjelaskan pentingnya Disaster Recovery Plan
3.      Menjelaskan Tahapan dalam pemulihan data

1.3  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah agar para perusahaan bisa memahami dan menggunakan DRP sebagai prosedur untuk mencegah / menyelamatkan fasilitas IT dan sistem informasi yang ada pada perusahaan sehingga bisa meminimalkan adanya kehilangan data-data yang penting bagi perusahaan.

1.4  Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1.    Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan penulisan ini.

2.    Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menganalisis dan me-review perkembangan Disaster Recovery Plan yang ada di Indonesia.

1.5  Sistematika Penulisan

BAB I       : Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II      : Landasan Teori
Dalam bab ini akan menguraikan teori atau konsep yang melandasi hal-hal yang terdapat dalam penelitian ini, secara umum dijelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan kinerja sistem informasi baik dikutip dari berbagai referensi maupun hasil riset yang didapat.
BAB III    : Pembahasan
Dalam bab ini berisi hasil penelitian yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dan manfaat yang ditetapkan pada pendahuluan. Lalu menunjukkan bagaimana pemikiran atau temuan-temuan diperoleh, menginterpretasikan temuan, dan mengaitkannya dengan teori yang digunakan.
BAB IV    : Penutup
Dalam bab ini penulis akan menarik beberapa kesimpulan berdasarkan petunjuk dari buku-buku referensi, internet, dan seminar teori-teori lanjutan sistem informasi serta saran yang mungkin akan diterapkan untuk kemajuan perusahaan.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Disaster
Disaster (bencana) didefinisikan sebagai kejadian yang waktu terjadinya tidak dapat diprediksi dan bersifat sangat merusak. Bencana terjadi dengan frekuensi yang tidak menentu dan akibat yang ditimbulkannya meningkat bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan timbulnya bencana.

Berbagai bencana yang mungkin terjadi antara lain adalah:
·         Bencana alam disebabkan oleh kondisi geografis dan geologis dari lokasi
·         Kebakaran disebabkan oleh faktor lingkungan dan pengaturan sistem elektrik yang dapat menyebabkan korsleting
·         Kerusakan pada jaringan listrik disebabkan oleh sistem elektrik
·         Serangan teroris disebabkan oleh lemahnya keamanan fisik dan non fisik data center
·         Sistem atau perangkat yang rusak terkait dengan kesalahan manajemen pengawasan perangkat
·         Kesalahan operasional akibat ulah manusia
·         Virus misalkan disebabkan oleh kesalahan pemilihan anti virus yang digunakan

2.2 Data
Data adalah catatan atas kumpulan fakta.Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra.

2.2.1 Data Center
Pusat data (Bahasa Inggris: data center) adalah suatu fasilitas yang digunakan untuk menempatkan sistem komputer dan komponen-komponen terkaitnya, seperti sistem telekomunikasi dan penyimpanan data. Fasilitas ini biasanya mencakup juga catu daya redundan atau cadangan, koneksi komunikasi data redundan, pengontrol lingkungan (mis. AC, ventilasi) dan biasanya dilengkapi dengan sistem pengamanan.

2.3 Disaster Recovery Center
Disaster Recovery Center merupakan suatu fasilitas dalam perusahaan yang berfungsi untuk mengambil alih fungsi suatu unit ketika terjadi gangguan serius yang menimpa satu atau beberapa unit kerja penting di perusahaan, seperti pusat penyimpanan dan pengolahan data dan informasi.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian BCP dan DRP
BCP membahas tentang membuat rencana dan menciptakan kerangka kerja untuk memastikan bahwa bisnis itu dapat hidup dalam keadaan darurat, sedangkan DRP membahas tentang proses pemulihan secara cepat dari suatu keadaan darurat dengan dampak minimum pada organisasi.

3.2 Keterkaitan Business Continuity Plan dan Disaster Recovery Plan                   
Business Continuity Plan (BCP) dan Disaster Recovery Plan (DRP) berkaitan dengan bisnis dengan tujuan mencegahan resiko dan melindungi infrastuktur dari serangan. BCP mengenai pembuatan perencaan dan framework guna menjamin proses bisnis dapat terus berlanjut dalam situasi darurat. Sedangkan DRP mengenai pemulihan cepat dari situasi darurat atau bencana agar dampak yang dihasilkan dari bencana tersebut hanya mempangaruhi organisasi atau perusahaan seminimum mungkin.

3.3 Cakupan BCP dan DRP
BCP proses meliputi:
·         Penentuan Lingkup dan Rencana
·         Business Impact Analysis (BIA)
·         Pengembangan Business Continuity Plan
DRP proses meliputi:
·         Proses Disaster Recovery Planning (DRP)
·         Pengujian Disaster Recovery Plan
·         Prosedur Disaster Recovery
3.4 Business Continuity Plan (BCP)
3.4.1 Pengertian BCP
·         BCP dirancang untuk melindungi proses bisnis yang kritis dari kegagalan/bencana alam atau yang dibuat manusia dan akibatnya hilangnya modal dalam kaitannya dengan ketidaktersediaan untuk proses bisnis secara normal.
·         BCP merupakan suatu strategi untuk memperkecil efek gangguan dan untuk memungkinkan proses bisnis terus berlangsung.
3.4.2 Area BCP
Business Continuity Plan perlu melihat pada semua area pengolahan informasi kritis perusahaan, termasuk --tetapi tidak membatasi pada hal-hal berikut ini:
§  LAN, WAN, dan server
§  Telekomunikasi dan link komunikasi data
§  Workstation dan workspaces
§  Aplikasi, perangkat lunak, dan data
§  Media dan penyimpanan arsip
§  Tugas-tugas staf dan proses produksi
3.5 Proses Pengembangan BCP
1.      Penyusunan Policy
·         Identifikasi peraturan perundangan yang mempersyaratkan perencanaan situasi darurat.
·         Penyusunan kebijakan penanganan situasi darurat.
·         Mendapatkan persetujuan.
·         Mensosialisasikan policy.
2.      Analisa Dampak terhadap bisnis
·         Identifikasi sumber daya TI vital.
·         Identifikasi dampak gangguan dan batas  lamanya gangguan.
·         Menyusun prioritas pemulihan sumber daya TI.
3.      Identifikasi mekanisme pencegahan
·         Implementasi mekanisme pencegahan.
·         Pemeliharaan mekanisme pencegahan.
4.      Pengembangan strategi pemulihan layanan
·         Identifikasi metoda pemulihan.
·         Integrasi metoda dalam rancangan arsitektur TI.
5.      Pengembangan rencana penanganan situasi darurat
·         Dokumentasi strategi pemulihan layanan.
6.      Uji-coba, pelatihan, dan latihan prosedur darurat
·         Pengembangan target uji-coba dan kriteria keberhasilan.
·         Perbaikan berdasarkan pengalaman/ permasalahan.
·         Pelatihan personil.
7.      Reevaluasi rencana penanggulangan situasi darurat
·         Review dan update.

3.6 Pengertian Disaster Recovery Plan
Disaster recovery plan merupakan sebuah prosedur  penyelamatan dan pemulihan khususnya fasilitas IT dan sistem informasi yang  berisikan tindakan-tindakan konsisten yang harus dilakukan sebelum, selama, dan setelah adanya kejadian (bencana) yang mengakibatkan hilangnya sumber daya sistem informasi.

Menurut Brooks (2002:9) Disaster recovery plan merupakan rencana yang difokuskan pada pengunaan IT untuk pemulihan kinerja sistem, aplikasi, atau sebuah fasilitas komputer yang dijalankan dari suatu tempat yang berbeda (off-site) ketika terjadi situasi darurat.

3.7 Fungsi DRP
untuk menyediakan kemampuan atau sumber daya untuk menjalankan proses vital pada lokasi cadangan sementara waktu dan mengembalikan fungsi lokasi utama menjadi normal dalam batasan waktu tetentu, dengan menjalankan prosedur pemulihan cepat, untuk meminimalisir kerugian organisasi.

Manfaat atau tujuan disaster recovery plan (DRP) bagi perusahaan :
§  Melindungi organisasi dari kegagalan layanan komputer utama
§  Meminimalisasi risiko organisasi terhadap penundaan (delay) dalam penyediaan layanan
§  Menjamin kehandalan dari sistem yang sedia melalui pengetesan dan simulasi
§  Meminimalisasi proses pengambilan keputusan oleh personal/manusia selama bencana.

3.8 Komponen DRP
·         Business Impact Analysis, adalah bagian dimana suatu bisnis menganalisa sejauh mana kebutuhan bisnis tersebut / ketergantungan terhadap penerapan dan penggunaan teknologi informasi dalam menjalani kegiatan bisnis.
·         Risk Assessment, akan diidentifikasi semua ancaman yang datang yang dapat menimbulkan suatu kerusakan baik kerusakan fisik maupun logistic.dengan demikian dapat meminimalkan efek kerusakan dari bencana yang akan datang.
·         Recovery Strategy, mendefinisikan strategi pemulihan yang mencakup penyediaan fasilitas fisik maupun teknologi pendukung.
·         Disaster Recovery Organization, merupakan sebuah model dan struktur organisasi yang berwenang dalam melakukan semua kegiatan pemulihan bencana.
·         Disaster Recovery Procedures, merupakan prosedur-prosedur baku yang mengatur semua aktifitas sebagai respon terhadap terjadinya bencana hingga pemulihan kembali system dan infrastruktur teknologi informasi.
·         Disaster Recovery Center, merupakan komponen terpenting dalam DRP yang mendefinisikan kebutuhan serta spesifikasi teknis dari sebuah Disaster Recovery Center (DRC).

3.9 Tahapan Disaster Recovery Plan adalah sebagai berikut :

1. REDUNDANT atau Dual Input POWER SOURCE
Siapkan power source yang memadai dan siap pakai serta bisa juga kita terapkan pada DUAL Input power ke UPS kita. Jika tidak ada Genset, kita juga bisa memanfaatkan Input sumber daya yang lain seperti tenaga Surya, dll.
a. Input Power dari PLN.
b. Input Power dari GENSET.
c. Input Power dari Power Source lain.

2. DUAL UPS atau Redundant UPS to PSU
a. UPS A
b. UPS B
Kita gunakan 2 UPS dengan Input Power Source yang berbeda untuk men-supply sebuah server yang memiliki dual Power Supply Unit. Tentunya ini berlaku untuk server yang punya 2 buah Power Supply Unit ( PSU ). Tujuannya adalah jika terjadi problem di salah satu Power Source maka Server juga masih bisa hidup dari Power Supply yang lain atau Power Source yang lain.

3. DUAL POWER SUPPLY UNIT ( per server )
a. PSU A dengan power input dari UPS A
b. PSU B dengan power input dari UPS B
Tidak semua Server memiliki fasilitas Dual Power Supply ini, jadi jika server kita memiliki dual Power Supply maka sebaiknya kita manfaatkan se-optimal mungkin.

4. LOCAL STORAGE RAID System untuk OS
RAID System ( Redundant Array of Inexpensive Disks ) adalah sekelompok harddisk yang berfungsi saling mengantikan / redundant untuk menjaga fungsional harddisk.

3.10 10 langkah dalam menjalankan Disaster Recovery Plan, Menurut Rosenberg (2006:4) yaitu:
1.      Define key assets, threats and scenarios
2.      Determine the recovery window
3.      Defining recovery solutions
4.      Draft a disaster recovery plan
5.      Establish a communications plan and assign roles
6.      Disaster recovery site planning
7.      Accessing data and application
8.      Document the disaster recovery plan, in detail
9.      Test the disaster recovery plan
10.  Refine and retest the disaster recovery plan

3.11 Pemulihan data
Ø  Replikasi Data
·         sebuah proses yang mengkopi isi data ke suatu lokasi remote baik yang berlangsung secara berlanjut ataupun pada interval tertentu.
·         Akan menyediakan hasil kopi data yang lengkap untuk tujuan Pemulihan Bencana.
·         Lokasi remote biasanya merupakan secondary data center.

Ø  Metode Replikasi Data
1)      Mode Replikasi Synchronous
·         Memungkinkan pertukaran data secara real-time.
·         Keseluruhan proses penulisan pada disk sumber dan disk target harus selesai terlebih dahulu sebelum beranjak ke transaksi operasional selanjutnya dan diberi acknowledge untuk keduanya jika telah selesai.
·         Menyediakan recovery yang konsisten dan lengkap untuk semua jangka waktu.
2)      Mode Replikasi Asynchronous
·         Memungkinkan pertukaran data secara buffering dalam artian bahwa data akan diletakkan dalam sebuah 'penampung sementara terlebih dahulu, kemudian pada jangka waktu tertentu akan direplikasi ke disk target.
·         Data yang direplikasi ke disk target tidak membutuhkan acknowledgement agar penulisan transaksi operasional pada disk sumber dapat berlangsung kembali.
·         Keuntungan dari mode replikasi ini adalah efektivitas biaya
·         Kerugiannya adalah jika suatu saat terjadi crash pada salah satu pihak dan data belum sempat direplikasi maka data yang terdapat pada kedua pihak tidak bisa dikatakan sebagai sebuah data yang sinkron.

3.12 Strategi Alternatif Data Processing
Ø  Melakukan duplikasi terhadap fasilitas proses informasi. Ada komputer lain atau cadangan di lokasi tertentu yang memiliki fungsi yang sama dan selalu diupdate sesuai dengan transaksi yang berjalan.
Ø  Hot sites: Sepenuhnya dijalankan oleh fasilitas operasi dan data alternatif yang dilengkapi dengan perangkat keras dan perangkat lunak yang memadai selama dampak bencana masih berlangsung. Cara ini penting untuk aplikasi yang kritical, namun biayanya sangat mahal.
Ø  Warm site: Fasiltas alternatif yang memiliki sarana yang lebih sedikit. Misalnya ada listrik, jaringan, telepon, meja-meja, printer, tetapi tanpa komputer yang mahal. Kadang-kadang ada komputer, tetapi less processing power.
Ø  Cold site: Fasilitas yang memiliki prasarana penunjang untuk operasi komputer, misalnya ruangan yang memiliki listrik dan AC. Tapi belum ada komputernya, namun siap dipasangi komputer.
Ø  Perjanjian dengan perusahaan lain (mutual aid agreement), yaitu bekerja sama dengan perusahaan lain yang memiliki kebutuhan sistem komputer yang sama seperti pada konfigurasi hardware atau software, atau kesamaam jaringan komunikasi data atau akses Internet. Dalam kerja sama ini, ke dua perusahaan setuju untuk saling mendukung bila terjadi bencana
Ø  Multiple Center: Proses sistem dan data tersebar di masing-masing unit organisasi. Strategi ini hampir sama dengan mutual aid agreement, namum dilaksanakan secara internal dalam satu organisasi atau perusahaan, dan memerlukan regulasi atau standar internal yang disepakati dan dipatuhi bersama.
Ø  Out source: Organisasi melakukan kontrak dengan pihak ke tiga untuk memberikan alternatif layanan proses backup.

3.13 Strategi Pemulihan Telekomunikasi
Ø  Network redundancy, memiliki kapasitas yang lebih atau ekstra gate gateway.
Ø  Alternative routing, menggunakan media komunikasi alternatif, mis. kalau sebelumnya antar cabang menggunakan VSAT, maka dicoba alternatif menggunakan POST (plain old telephone system), juga jaringan fiber optik yang memiliki 2 jalur routing.
Ø  Diverse routing, menggunakan kabel duplikat, dan menjamin bahwa kabel-kabel tersebut memiliki jalur/path yang berbeda. Kalau kabel-kabel tersebut berada pada jalur yang sama persis, maka akan kena jenis ancaman yang sama.
Ø  Long haul network diversity, sebuah recovery facility (off site alternate facility). Banyak yang memiliki banyak jalur keluar ke beberapa penyelenggara jasa telekomunikasi. Hal ini untuk menjamin tersedianya jasa telekomunikasi jika beberapa mengalami crash.
Ø  Protection of local loop (last mile circuit), menggunakan banyak metode akses komunikasi keluar, kalau ada bencana di off site facility.
Ø  Voice recovery, pemulihan sarana telekomunikasi terutama untuk melakukan hubungan komunikasi suara, lewat telepon.

3.14 RPO (recovery point objective) dan RPO (recovery point objective)
RTO (Recovery Time Objective), adalah durasi waktu maksimal bagi suatu organisasi untuk melakukan restorasi proses bisnisnya setelah terjadi bencana (bencana alam, kebakaran, kerusakan sistem, dll), dalam rangka menghindari konsekuensi yang tidak dapat ditolerir terkait dengan kelangsungan bisnis organisasi tersebut.

RPO (Recovery Point Objective), adalah maksimal rentang waktu kehilangan data yang dapat ditolerir oleh suatu organisasi pada saat bencana terjadi. Nilai RPO berkaitan erat dengan frekuensi penyalinan data backup (replikasi) dari sistem utama ke sistem cadangan di lokasi DR ataupun pengiriman data backup (e.g. Backup Tape) ke lokasi penyimpanan (offsite location).

3.15 Pemilihan lokasi DRP
·         Jarak dari Fasilitas Utama; pilihlah lokasi yang tidak terlalu dekat dan juga terlalu jauh dari gedung utama yaitu sekitar 30 kilo meter.
·         Potensi Risiko dari Bencana: apakah lokasi tersebut juga memiliki risiko terkena bencana, carilah tempat yang minim terkena ancaman atau dampak bencana.
·         Ketersediaan staff setempat: apakah ada staff setempat yang bisa mengoperasikan proses bisnis utama.
·         Ketersediaan dan kualitas tenaga listrik/baterei; apakah tenaga listrik atau baterai tersedia, dan apakah mencukupi untuk waktu lebih dari 27 jam.
·         Nearby Fiber Routes: untuk kepentingan jaringan komunikasi data, alangkah lebih baik kalau tidak jauh dari jarul kabel fiber, dan kalau memungkinkan kita bisa minta ijin atau mendaftar menggunakan jalur kabel tersebut.
·         Specific IT Criteria; Tehnologi informasi dapat berfungsi pada lokasi tersebut, batasan jarak harus menjadi perhatian perlengkapan jaringan.
·         Tax Incentive; Lokasi tertentu atau di luar perkotaan mungkin akan jauh lebih murah biayanya.


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Disaster Recovery plan adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi kemungkinan dan membatasi kerugian akibat bencana pada proses bisnis yang penting. Format dan elemen DRP bervariasi dari yang komprehensif untuk perusahaan multi nasional dengan informasi, sekuritas, sistem informasi yang kompleks, hingga DRP untuk perusahaan kecil. Dengan adanya DRP sebagai pedoman untuk menghadapi bencana, maka perusahaan dapat menghadapi situasi kritis akibat bencana dengan lebih baik dan terarah.

4.2 Saran
Bencana memang datang secara tiba-tiba tetapi, ada baiknya bila kita mengerti akan cara menanggulangi bencana dan mencegah akibat dari resiko yang diakibatkan oleh bencana tersebut, sehingga kita bisa meminimalisir adanya kerusakan atau kehilangan data-data yang penting bagi perusahaan kita.

DAFTAR PUSTAKA