Monday, March 10, 2014

Disaster Recovery Plan


Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi

MANAGING DISASTER
RECOVERY PLAN




Oleh

Bhima              :
Malcolm          :
Muhamad Ridwan Putra         : 1501156383
Joel                  :

ABSTRAK
Disaster Recovery Plan (DRP) adalah suatu terminology yang sudah dikenal oleh perusahaan-perusahaan dimana basis bisnisnya adalah teknologi informasi (TI). Sekalipun demikian, metode DRP ini terkadang dilupakan oleh para professional TI. Padahal metode DRP adalah salah satu aspek yang sangat penting dan strategis. Pemahaman akan konsep-konsep pemulihan sangat penting dalam perencanaan dan penerapan metode DRP. Dengan memahami konsep DRP maka dapat dikembangkan solusi-solusi teknis dalam pemulihan bencana.
Kata kunci : Disaster Recovery Plan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bencana dapat terjadi kapan saja dengan berbagai macam sebab. Demikian halnya dengan Indonesia yang kerap terkena bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun yang disebabkan oleh kelalaian manusia itu sendiri. Bencana dalam dunia IT adalah kejadian yang mengakibatkan kegagalan sistem dan memberikan dampak yang membahayakan terhadap bisnis yang dijalankan. Sektor swasta di Indonesia memiliki total lebih dari 85% critical infrastructure yang perlu dilindungi. 50% dari organisasi yang pernah mengalami kegagalan sistem akibat bencana, tidak akan bertahan hidup dan 90% nya akan mati dalam 2 tahun.

Bagi dunia bisnis terjadinya bencana dapat mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit baik dari segi materi maupun immateriil. Untuk itu setiap perusahaan sebaiknya memiliki rencana berupa Disaster Recovery Planning (DRP) untuk mengatasi atau meminimalisir dampak negatif akibat terjadinya sebuah bencana. Disaster Recovery adalah perencaan untuk menghindari masalah dan kemampuan untuk menghadapi masalah ketika bencana berlangsung. Hal ini melibatkan kegiatan dan program yang dirancang untuk menghidupkan kembali suatu entitas. DRC harus menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan akan menghadapi bencana yang mungkin terjadi.

Akan tetapi, Manajemen perusahaan seringkali mengabaikan pentingnya implementasi DRP ini dengan berbagai alasan seperti kurangnya waktu dan sumber daya, kurangnya dukungan manajemen puncak, kurangnya biaya, terlalu banyak potensi bencana yang harus dipertimbangkan, kurangnya kepedulian terhadap akibat bencana bagi bisnis perusahaan, termasuk kurangnya pengetahuan mengenai DRP tersebut.

Dengan mengikuti workshop ini diharapkan para peserta mendapatkan pemahaman dan wawasan yang diperlukan tentang pentingnya dan bagaimana cara mengenmbangkan sebuah Disaster Recovery Planning di perusahannya masing-masing.

1.2  Ruang Lingkup
1.      Memberikan pemahaman tentang Disaster Recovery Plan
2.      Menjelaskan pentingnya Disaster Recovery Plan
3.      Menjelaskan Tahapan dalam pemulihan data

1.3  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah agar para perusahaan bisa memahami dan menggunakan DRP sebagai prosedur untuk mencegah / menyelamatkan fasilitas IT dan sistem informasi yang ada pada perusahaan sehingga bisa meminimalkan adanya kehilangan data-data yang penting bagi perusahaan.

1.4  Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1.    Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan penulisan ini.

2.    Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menganalisis dan me-review perkembangan Disaster Recovery Plan yang ada di Indonesia.

1.5  Sistematika Penulisan

BAB I       : Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II      : Landasan Teori
Dalam bab ini akan menguraikan teori atau konsep yang melandasi hal-hal yang terdapat dalam penelitian ini, secara umum dijelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan kinerja sistem informasi baik dikutip dari berbagai referensi maupun hasil riset yang didapat.
BAB III    : Pembahasan
Dalam bab ini berisi hasil penelitian yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dan manfaat yang ditetapkan pada pendahuluan. Lalu menunjukkan bagaimana pemikiran atau temuan-temuan diperoleh, menginterpretasikan temuan, dan mengaitkannya dengan teori yang digunakan.
BAB IV    : Penutup
Dalam bab ini penulis akan menarik beberapa kesimpulan berdasarkan petunjuk dari buku-buku referensi, internet, dan seminar teori-teori lanjutan sistem informasi serta saran yang mungkin akan diterapkan untuk kemajuan perusahaan.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Disaster
Disaster (bencana) didefinisikan sebagai kejadian yang waktu terjadinya tidak dapat diprediksi dan bersifat sangat merusak. Bencana terjadi dengan frekuensi yang tidak menentu dan akibat yang ditimbulkannya meningkat bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan timbulnya bencana.

Berbagai bencana yang mungkin terjadi antara lain adalah:
·         Bencana alam disebabkan oleh kondisi geografis dan geologis dari lokasi
·         Kebakaran disebabkan oleh faktor lingkungan dan pengaturan sistem elektrik yang dapat menyebabkan korsleting
·         Kerusakan pada jaringan listrik disebabkan oleh sistem elektrik
·         Serangan teroris disebabkan oleh lemahnya keamanan fisik dan non fisik data center
·         Sistem atau perangkat yang rusak terkait dengan kesalahan manajemen pengawasan perangkat
·         Kesalahan operasional akibat ulah manusia
·         Virus misalkan disebabkan oleh kesalahan pemilihan anti virus yang digunakan

2.2 Data
Data adalah catatan atas kumpulan fakta.Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra.

2.2.1 Data Center
Pusat data (Bahasa Inggris: data center) adalah suatu fasilitas yang digunakan untuk menempatkan sistem komputer dan komponen-komponen terkaitnya, seperti sistem telekomunikasi dan penyimpanan data. Fasilitas ini biasanya mencakup juga catu daya redundan atau cadangan, koneksi komunikasi data redundan, pengontrol lingkungan (mis. AC, ventilasi) dan biasanya dilengkapi dengan sistem pengamanan.

2.3 Disaster Recovery Center
Disaster Recovery Center merupakan suatu fasilitas dalam perusahaan yang berfungsi untuk mengambil alih fungsi suatu unit ketika terjadi gangguan serius yang menimpa satu atau beberapa unit kerja penting di perusahaan, seperti pusat penyimpanan dan pengolahan data dan informasi.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian BCP dan DRP
BCP membahas tentang membuat rencana dan menciptakan kerangka kerja untuk memastikan bahwa bisnis itu dapat hidup dalam keadaan darurat, sedangkan DRP membahas tentang proses pemulihan secara cepat dari suatu keadaan darurat dengan dampak minimum pada organisasi.

3.2 Keterkaitan Business Continuity Plan dan Disaster Recovery Plan                   
Business Continuity Plan (BCP) dan Disaster Recovery Plan (DRP) berkaitan dengan bisnis dengan tujuan mencegahan resiko dan melindungi infrastuktur dari serangan. BCP mengenai pembuatan perencaan dan framework guna menjamin proses bisnis dapat terus berlanjut dalam situasi darurat. Sedangkan DRP mengenai pemulihan cepat dari situasi darurat atau bencana agar dampak yang dihasilkan dari bencana tersebut hanya mempangaruhi organisasi atau perusahaan seminimum mungkin.

3.3 Cakupan BCP dan DRP
BCP proses meliputi:
·         Penentuan Lingkup dan Rencana
·         Business Impact Analysis (BIA)
·         Pengembangan Business Continuity Plan
DRP proses meliputi:
·         Proses Disaster Recovery Planning (DRP)
·         Pengujian Disaster Recovery Plan
·         Prosedur Disaster Recovery
3.4 Business Continuity Plan (BCP)
3.4.1 Pengertian BCP
·         BCP dirancang untuk melindungi proses bisnis yang kritis dari kegagalan/bencana alam atau yang dibuat manusia dan akibatnya hilangnya modal dalam kaitannya dengan ketidaktersediaan untuk proses bisnis secara normal.
·         BCP merupakan suatu strategi untuk memperkecil efek gangguan dan untuk memungkinkan proses bisnis terus berlangsung.
3.4.2 Area BCP
Business Continuity Plan perlu melihat pada semua area pengolahan informasi kritis perusahaan, termasuk --tetapi tidak membatasi pada hal-hal berikut ini:
§  LAN, WAN, dan server
§  Telekomunikasi dan link komunikasi data
§  Workstation dan workspaces
§  Aplikasi, perangkat lunak, dan data
§  Media dan penyimpanan arsip
§  Tugas-tugas staf dan proses produksi
3.5 Proses Pengembangan BCP
1.      Penyusunan Policy
·         Identifikasi peraturan perundangan yang mempersyaratkan perencanaan situasi darurat.
·         Penyusunan kebijakan penanganan situasi darurat.
·         Mendapatkan persetujuan.
·         Mensosialisasikan policy.
2.      Analisa Dampak terhadap bisnis
·         Identifikasi sumber daya TI vital.
·         Identifikasi dampak gangguan dan batas  lamanya gangguan.
·         Menyusun prioritas pemulihan sumber daya TI.
3.      Identifikasi mekanisme pencegahan
·         Implementasi mekanisme pencegahan.
·         Pemeliharaan mekanisme pencegahan.
4.      Pengembangan strategi pemulihan layanan
·         Identifikasi metoda pemulihan.
·         Integrasi metoda dalam rancangan arsitektur TI.
5.      Pengembangan rencana penanganan situasi darurat
·         Dokumentasi strategi pemulihan layanan.
6.      Uji-coba, pelatihan, dan latihan prosedur darurat
·         Pengembangan target uji-coba dan kriteria keberhasilan.
·         Perbaikan berdasarkan pengalaman/ permasalahan.
·         Pelatihan personil.
7.      Reevaluasi rencana penanggulangan situasi darurat
·         Review dan update.

3.6 Pengertian Disaster Recovery Plan
Disaster recovery plan merupakan sebuah prosedur  penyelamatan dan pemulihan khususnya fasilitas IT dan sistem informasi yang  berisikan tindakan-tindakan konsisten yang harus dilakukan sebelum, selama, dan setelah adanya kejadian (bencana) yang mengakibatkan hilangnya sumber daya sistem informasi.

Menurut Brooks (2002:9) Disaster recovery plan merupakan rencana yang difokuskan pada pengunaan IT untuk pemulihan kinerja sistem, aplikasi, atau sebuah fasilitas komputer yang dijalankan dari suatu tempat yang berbeda (off-site) ketika terjadi situasi darurat.

3.7 Fungsi DRP
untuk menyediakan kemampuan atau sumber daya untuk menjalankan proses vital pada lokasi cadangan sementara waktu dan mengembalikan fungsi lokasi utama menjadi normal dalam batasan waktu tetentu, dengan menjalankan prosedur pemulihan cepat, untuk meminimalisir kerugian organisasi.

Manfaat atau tujuan disaster recovery plan (DRP) bagi perusahaan :
§  Melindungi organisasi dari kegagalan layanan komputer utama
§  Meminimalisasi risiko organisasi terhadap penundaan (delay) dalam penyediaan layanan
§  Menjamin kehandalan dari sistem yang sedia melalui pengetesan dan simulasi
§  Meminimalisasi proses pengambilan keputusan oleh personal/manusia selama bencana.

3.8 Komponen DRP
·         Business Impact Analysis, adalah bagian dimana suatu bisnis menganalisa sejauh mana kebutuhan bisnis tersebut / ketergantungan terhadap penerapan dan penggunaan teknologi informasi dalam menjalani kegiatan bisnis.
·         Risk Assessment, akan diidentifikasi semua ancaman yang datang yang dapat menimbulkan suatu kerusakan baik kerusakan fisik maupun logistic.dengan demikian dapat meminimalkan efek kerusakan dari bencana yang akan datang.
·         Recovery Strategy, mendefinisikan strategi pemulihan yang mencakup penyediaan fasilitas fisik maupun teknologi pendukung.
·         Disaster Recovery Organization, merupakan sebuah model dan struktur organisasi yang berwenang dalam melakukan semua kegiatan pemulihan bencana.
·         Disaster Recovery Procedures, merupakan prosedur-prosedur baku yang mengatur semua aktifitas sebagai respon terhadap terjadinya bencana hingga pemulihan kembali system dan infrastruktur teknologi informasi.
·         Disaster Recovery Center, merupakan komponen terpenting dalam DRP yang mendefinisikan kebutuhan serta spesifikasi teknis dari sebuah Disaster Recovery Center (DRC).

3.9 Tahapan Disaster Recovery Plan adalah sebagai berikut :

1. REDUNDANT atau Dual Input POWER SOURCE
Siapkan power source yang memadai dan siap pakai serta bisa juga kita terapkan pada DUAL Input power ke UPS kita. Jika tidak ada Genset, kita juga bisa memanfaatkan Input sumber daya yang lain seperti tenaga Surya, dll.
a. Input Power dari PLN.
b. Input Power dari GENSET.
c. Input Power dari Power Source lain.

2. DUAL UPS atau Redundant UPS to PSU
a. UPS A
b. UPS B
Kita gunakan 2 UPS dengan Input Power Source yang berbeda untuk men-supply sebuah server yang memiliki dual Power Supply Unit. Tentunya ini berlaku untuk server yang punya 2 buah Power Supply Unit ( PSU ). Tujuannya adalah jika terjadi problem di salah satu Power Source maka Server juga masih bisa hidup dari Power Supply yang lain atau Power Source yang lain.

3. DUAL POWER SUPPLY UNIT ( per server )
a. PSU A dengan power input dari UPS A
b. PSU B dengan power input dari UPS B
Tidak semua Server memiliki fasilitas Dual Power Supply ini, jadi jika server kita memiliki dual Power Supply maka sebaiknya kita manfaatkan se-optimal mungkin.

4. LOCAL STORAGE RAID System untuk OS
RAID System ( Redundant Array of Inexpensive Disks ) adalah sekelompok harddisk yang berfungsi saling mengantikan / redundant untuk menjaga fungsional harddisk.

3.10 10 langkah dalam menjalankan Disaster Recovery Plan, Menurut Rosenberg (2006:4) yaitu:
1.      Define key assets, threats and scenarios
2.      Determine the recovery window
3.      Defining recovery solutions
4.      Draft a disaster recovery plan
5.      Establish a communications plan and assign roles
6.      Disaster recovery site planning
7.      Accessing data and application
8.      Document the disaster recovery plan, in detail
9.      Test the disaster recovery plan
10.  Refine and retest the disaster recovery plan

3.11 Pemulihan data
Ø  Replikasi Data
·         sebuah proses yang mengkopi isi data ke suatu lokasi remote baik yang berlangsung secara berlanjut ataupun pada interval tertentu.
·         Akan menyediakan hasil kopi data yang lengkap untuk tujuan Pemulihan Bencana.
·         Lokasi remote biasanya merupakan secondary data center.

Ø  Metode Replikasi Data
1)      Mode Replikasi Synchronous
·         Memungkinkan pertukaran data secara real-time.
·         Keseluruhan proses penulisan pada disk sumber dan disk target harus selesai terlebih dahulu sebelum beranjak ke transaksi operasional selanjutnya dan diberi acknowledge untuk keduanya jika telah selesai.
·         Menyediakan recovery yang konsisten dan lengkap untuk semua jangka waktu.
2)      Mode Replikasi Asynchronous
·         Memungkinkan pertukaran data secara buffering dalam artian bahwa data akan diletakkan dalam sebuah 'penampung sementara terlebih dahulu, kemudian pada jangka waktu tertentu akan direplikasi ke disk target.
·         Data yang direplikasi ke disk target tidak membutuhkan acknowledgement agar penulisan transaksi operasional pada disk sumber dapat berlangsung kembali.
·         Keuntungan dari mode replikasi ini adalah efektivitas biaya
·         Kerugiannya adalah jika suatu saat terjadi crash pada salah satu pihak dan data belum sempat direplikasi maka data yang terdapat pada kedua pihak tidak bisa dikatakan sebagai sebuah data yang sinkron.

3.12 Strategi Alternatif Data Processing
Ø  Melakukan duplikasi terhadap fasilitas proses informasi. Ada komputer lain atau cadangan di lokasi tertentu yang memiliki fungsi yang sama dan selalu diupdate sesuai dengan transaksi yang berjalan.
Ø  Hot sites: Sepenuhnya dijalankan oleh fasilitas operasi dan data alternatif yang dilengkapi dengan perangkat keras dan perangkat lunak yang memadai selama dampak bencana masih berlangsung. Cara ini penting untuk aplikasi yang kritical, namun biayanya sangat mahal.
Ø  Warm site: Fasiltas alternatif yang memiliki sarana yang lebih sedikit. Misalnya ada listrik, jaringan, telepon, meja-meja, printer, tetapi tanpa komputer yang mahal. Kadang-kadang ada komputer, tetapi less processing power.
Ø  Cold site: Fasilitas yang memiliki prasarana penunjang untuk operasi komputer, misalnya ruangan yang memiliki listrik dan AC. Tapi belum ada komputernya, namun siap dipasangi komputer.
Ø  Perjanjian dengan perusahaan lain (mutual aid agreement), yaitu bekerja sama dengan perusahaan lain yang memiliki kebutuhan sistem komputer yang sama seperti pada konfigurasi hardware atau software, atau kesamaam jaringan komunikasi data atau akses Internet. Dalam kerja sama ini, ke dua perusahaan setuju untuk saling mendukung bila terjadi bencana
Ø  Multiple Center: Proses sistem dan data tersebar di masing-masing unit organisasi. Strategi ini hampir sama dengan mutual aid agreement, namum dilaksanakan secara internal dalam satu organisasi atau perusahaan, dan memerlukan regulasi atau standar internal yang disepakati dan dipatuhi bersama.
Ø  Out source: Organisasi melakukan kontrak dengan pihak ke tiga untuk memberikan alternatif layanan proses backup.

3.13 Strategi Pemulihan Telekomunikasi
Ø  Network redundancy, memiliki kapasitas yang lebih atau ekstra gate gateway.
Ø  Alternative routing, menggunakan media komunikasi alternatif, mis. kalau sebelumnya antar cabang menggunakan VSAT, maka dicoba alternatif menggunakan POST (plain old telephone system), juga jaringan fiber optik yang memiliki 2 jalur routing.
Ø  Diverse routing, menggunakan kabel duplikat, dan menjamin bahwa kabel-kabel tersebut memiliki jalur/path yang berbeda. Kalau kabel-kabel tersebut berada pada jalur yang sama persis, maka akan kena jenis ancaman yang sama.
Ø  Long haul network diversity, sebuah recovery facility (off site alternate facility). Banyak yang memiliki banyak jalur keluar ke beberapa penyelenggara jasa telekomunikasi. Hal ini untuk menjamin tersedianya jasa telekomunikasi jika beberapa mengalami crash.
Ø  Protection of local loop (last mile circuit), menggunakan banyak metode akses komunikasi keluar, kalau ada bencana di off site facility.
Ø  Voice recovery, pemulihan sarana telekomunikasi terutama untuk melakukan hubungan komunikasi suara, lewat telepon.

3.14 RPO (recovery point objective) dan RPO (recovery point objective)
RTO (Recovery Time Objective), adalah durasi waktu maksimal bagi suatu organisasi untuk melakukan restorasi proses bisnisnya setelah terjadi bencana (bencana alam, kebakaran, kerusakan sistem, dll), dalam rangka menghindari konsekuensi yang tidak dapat ditolerir terkait dengan kelangsungan bisnis organisasi tersebut.

RPO (Recovery Point Objective), adalah maksimal rentang waktu kehilangan data yang dapat ditolerir oleh suatu organisasi pada saat bencana terjadi. Nilai RPO berkaitan erat dengan frekuensi penyalinan data backup (replikasi) dari sistem utama ke sistem cadangan di lokasi DR ataupun pengiriman data backup (e.g. Backup Tape) ke lokasi penyimpanan (offsite location).

3.15 Pemilihan lokasi DRP
·         Jarak dari Fasilitas Utama; pilihlah lokasi yang tidak terlalu dekat dan juga terlalu jauh dari gedung utama yaitu sekitar 30 kilo meter.
·         Potensi Risiko dari Bencana: apakah lokasi tersebut juga memiliki risiko terkena bencana, carilah tempat yang minim terkena ancaman atau dampak bencana.
·         Ketersediaan staff setempat: apakah ada staff setempat yang bisa mengoperasikan proses bisnis utama.
·         Ketersediaan dan kualitas tenaga listrik/baterei; apakah tenaga listrik atau baterai tersedia, dan apakah mencukupi untuk waktu lebih dari 27 jam.
·         Nearby Fiber Routes: untuk kepentingan jaringan komunikasi data, alangkah lebih baik kalau tidak jauh dari jarul kabel fiber, dan kalau memungkinkan kita bisa minta ijin atau mendaftar menggunakan jalur kabel tersebut.
·         Specific IT Criteria; Tehnologi informasi dapat berfungsi pada lokasi tersebut, batasan jarak harus menjadi perhatian perlengkapan jaringan.
·         Tax Incentive; Lokasi tertentu atau di luar perkotaan mungkin akan jauh lebih murah biayanya.


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Disaster Recovery plan adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi kemungkinan dan membatasi kerugian akibat bencana pada proses bisnis yang penting. Format dan elemen DRP bervariasi dari yang komprehensif untuk perusahaan multi nasional dengan informasi, sekuritas, sistem informasi yang kompleks, hingga DRP untuk perusahaan kecil. Dengan adanya DRP sebagai pedoman untuk menghadapi bencana, maka perusahaan dapat menghadapi situasi kritis akibat bencana dengan lebih baik dan terarah.

4.2 Saran
Bencana memang datang secara tiba-tiba tetapi, ada baiknya bila kita mengerti akan cara menanggulangi bencana dan mencegah akibat dari resiko yang diakibatkan oleh bencana tersebut, sehingga kita bisa meminimalisir adanya kerusakan atau kehilangan data-data yang penting bagi perusahaan kita.

DAFTAR PUSTAKA







1 comment:

  1. Disaster recovery site in combination with Backup can be an interesting solution when we want to create a system where data is not lost and recovery can be made simple and easy.

    ReplyDelete