Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi
TECHNOPRENEUR
Oleh
Muhamad Ridwan Putra : 1501156383
Indra Pratama : 1301014413
Joel :
ABSTRAK
Technopreneur adalah gabungan dari kata technique dan entrepreneur yang artinya adalah orang yang mempunyai skill di bidang teknologi namun dapat membaca peluang usaha di bidang teknologi .Angka kelahiran technopreneur tampaknya kian meningkat dari hari ke hari. Jika datang ke pameran-pameran dan presentasi teknologi informasi (TI), maka akan didapati presenter presenter yang masih muda, tetapi tampil visioner, futuristik, bersemangat, energik, penuh gagasan, dan piawai dalam mendemonstrasikan kemampuannya untuk mengoperasikan dan memanfaatkan TI dalam berbagai bidang. Kelahiran para technopreneur itu banyak didasari dengan sejumlah latar belakang, antara lain: idealisme untuk menciptakan lapangan kerja baru, mengubah peran teknologi tidak hanya sebagai alatbantu saja, melainkan sebagai sumber bisnis, menggali potensi diri untuk hidup mandiri, memiliki kebebasan berkreasi dan pendapatan tidak terbatas. Maka pada karya tulis ini,penulis akan membahas tentang perkembangan Perkembangan Technopreneurship Dan Peranan Technopreneur Serta Pengaruh Teknologi Untuk Dunia Bisnis
Kata kunci : Technopreneurship, Technopreneur
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang begitu pesat pada beberapa tahun terakhir inisangat mempengaruhi iklim bisnis di seluruh belahan dunia. Saat ini teknologimerupakan pendukung utama bagi setiap bisnis untuk meningkatkan kualitasnyaatau sekedar untuk bertahan di era globalisasi. Setiap lini di dunia bisnis selalu eratkaitanya dengan teknologi. Mulai dari proses produksi hingga proses pendistribusian tidak akan lepas dari teknologi.Perkembangan teknologi ini merupakan tantangan bagi para pelaku bisnis.Mereka mempunyai dua pilihan, yaitu apakah akan menerapkan teknologi dalamdunia bisnis mereka atau tetap bertahan dengan sistem bisnis yang konvensional.Secara tidak langsung hal ini mengakibatkan pergeseran dari seorang entrepreneur menjadi seorang technopreneur . Orang yang siap dan mampu menggabungkanteknologi dengan bisnis yang mereka jalankan inilah yang disebut dengan technopreneur .
Banyak sekali keuntungan yang didapatkan jika kita bisamemasukan unsur-unusur teknologi ke dalam sistem bisnis yang ada. Mulai darikemudahan produksi, efesiensi dan efektifitas sumber daya, hingga kemudahanakses dalam proses pendistribusian. Seorang technopreneur juga merupakan orang yang bisa memanfaatkan berbagai peluang dari pesatnya perkembangan di dunia teknologi. Bagi sebagianorang mungkin peluang-peluang tersebut tidak nampak sama sekali, tapi bagi technopreneur peluang itu seolah-olah justru datang menghampiri mereka.
1.2 Ruang lingkup
· Menjelaskan elemen penting untuk bisa menjadi proses pembentukan technopreneur
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan :
· Menjelaskan elemen yang berkaitan dengan usaha berbasis teknologi
Manfaat :
· Agar perusahaan bisa memenangkan persaingan competitor yang semakin ketat.
1.4 Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1. Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan penulisan ini.
2. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menganalisis dan me-review perkembangan perpustakaanyang ada di Indonesia.
1.5 Sistematika Penulisan
BAB I : Pendahuluan
Pada bab pendahuluan diuraikan masalah yang akan dibahas yang terdiri dari latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat pembahasan, metodologi yang digunakan dan sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Pada bab ini berisikan tentang beberapa teori atau konsep yang didapatkan dari media internet ataupun buku untuk mendasari penulisan penelitian ini.
BAB III : Pembahasan
Pada bab ini menjelaskan elemen-elemen penting tentang bagaimana menjadikan teknologi sebagai suatu dasar dalam suatu bisnis
BAB IV : Penutup
Berisikan tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Teknologi
2.2 Pengertian Enterprise
Menurut Bernard (2005, p55), enterprise adalah area dari aktivitas dan tujuan umum dalam sebuah organisasi, dimana informasi dan sumber daya lainnya yang di pertukarkan. Enterprise biasanya terdiri dari komponen vertical, horizontal, dan extended. Komponen vertikal (juga dikenal sebagai Line of bussiness atau segments) adalah daerah kegiatan yang khusus untuk satu baris bisnis (misalnya, penelitian dan pengembangan). Komponen horizontal (juga dikenal sebagai crosscutting enterprise) adalah daerah yang lebih umum dari aktivitas yang melayani beberapa baris bisnis. Extended components terdiri lebih dari satu organisasi (misalnya, extranets dan supply chain).
2.3 Pengertian Technopreneurship
Menurut Antonius Tanan(2008,p97), istilah technopreneurship merupakan gabungan dari dua kata yakni teknonolgi dan enterpreneur. Kata teknologi berasal dari bahasa yunani yang berarti tindakan sitematis dari sebuah kecakapan, termasuk seni. Sedangkan enterpreneur merupakan tindakan komersialisasi terhadap suatu produk. Sehingga Tanan menyimpulkan bahwa technopreneurship merupakan suatu proses komersialisasi produk-produk teknologi yang kurang berharga menjadi berbagai produk yang bernilai tinggi sehingga menarik minat konsumen untuk membeli atau memilikinya.
Menurut Eddy Soeryanto(2009: 16) Technopreneurship (teknologi Entepreneurship) merupakan bagian dari Entrepreneurship yang menekankan pada faktor teknologi yaitu kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam proses bisnisnya.
BAB III
PEMBAHASAN
Memahami technological entrepreneurship atau technopreneurship dapat juga dilakukan dengan mengidentifikasi elemen-elemen kunci yang memiliki keterkaitan dengan proses pembentukan usaha berbasis teknologi, Igor Prodan (2007) mengidentifikasi, elemen itu adalah :
1. Technological entrepreneur
2. Universities
3. Corporation
4. Capital
5. Market/costumers
6. Government
7. Advisor
1. Technological entrepreneur, atau wirausahawan berbasis teknologi.
Elemen ini menjadi kunci penciptaan perusahaan berbasis teknologi, wirausahawan ini pada dasarnya adalah orang yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan karakteristik khusus yang berbeda dengan wirausahawan bukan berbasis teknologi, sebagai contoh misalnya wirausahawan yang menguasai kemampuan teknologi informasi seperti komputer dan menjalankan internet. Pengetahuan dan keahlian ini dapat di pelajari di lembaga lembaga pendidikan khususnya yang membuat kerangka keterkaitan antara teknologi dengan kewirausahaan.
Faktor lain yang harus ada dalam wirausahawan ini adalah faktor motivasi yang kuat untuk menguasai teknologi, setidaknya faktor ini dimuali dengan motiv untuk memulai bisnis karena ingin ‘tidak terikat’ yang menyangkut keinginan sebagai orang bebas dan dapat mengontrol, ’kesejahteraan’ dan ‘ekploitasi’.
2. Universities, atau Perguruan Tinggi
Unversitas atau institusi pendidikan tinggi lainnya adalah elemen penting sebagai tempat lahirnya pengetahuan dan kelmuan yang baru termasuk didalamnya teklogi dan kewirausahaan. Untuk dapat menciptakan technopreneur setidaknya dalam institusi pendidikan tersebut harus memiliki kerjasama yang kuat antara bagiannya misalnya kerjasama fakultas teknik dengan fakultas bisnis (ekonomi), atau bahkan atar universitas untuk mengadakan pendidikan dan pelatihan tentang technopreneurship.
3. Corporation, atau Perusahaan
Perusahaan juga memiliki peran dalam penciptaan wirausaha berbasis teknologi, perubahan paradigma dari menempatkan karyawan hanya sebagai faktor produkai ke arah konsepsi “intrapreneurship” atau wirausaha dalam perusahaan akan berdampak pada peningkatan performa bisnis perusahaan tersebut, perusahaan menjadi lebih inovatif dan pekerja lebih produktif. Konsepsi dasar intrapreneurship berbasis pada riset dan pengembangan dalam perusahaan akan mendorong stabilitas perusahaan,
4. Capital,atau Modal
Faktor yang tidak kalah pentingnya dalam pengembangan tecnopreneurship adalah capital atau modal, keberanian mengambil resiko dalam berusaha menunjukan salah satu sisi sifat wirausahawan maju termasuk menggunakan modal pihak ketiga untuk meningkatkan usahanya.
Banyak cara untuk memperoleh dana pihak ketiga dalam usaha berbasis teknologi ini, seperti saudara atau teman, tapi itu tidak akan cukup untuk mengembangkan usaha menjadi lebih besar hubungan dengan bank, pemerintah dan lembaga keuangan lain mutlak di perlukan. Pada kondisi ini yang harus ditanamkan adalah prinsip harus melunasi pinjaman dan membuat usaha lebih maju.
5. Market/costumers, atau pasar/pengguna
Fokus pengembangan usa apapun harus lepada pengguna, walapun wirausaha berbasis teknologi memiliki fokus pada pengembangan teknologi dan produksi berbasis teknologi fkus pada pelanggan merupakan suatu keharusan, preusan memerlukan feedback dari pasar untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. Wirausahawan juga di tuntut untuk menciptakan komersialisasi dan pemasaran produk berbasis teknologi tinggi, meningkatkan pemasaran dengan strategi pertumbuhan, memperluas pasar dan lanilla yang berkaitan dengan isu-isu pemasaran.
6. Government atau pemerintah
Peranan pemerintah harus menjadi pendorong percepatan perusahaan, menjadi stimulus bagi perubahan kapasitas usaha dari kecil menjadi menengah dan besar. Membangun Usaha Kecil Menengah dapat dilakukan dengan : 1. kebjakan makroekonomi, khususnya dalam staibilitas lingkungan bisnis; 2. peraturan khusus dalam pengembangan UKM; 3. pendukung perkembangan dan membantu permasalahan UKM dan 4. mempromosikan bisnis UKM dan membangun kultur usaha kompetitif.
Pemerintah juga dituntut untuk mendorong aspek utama pengembangan UKM menjadi lebih sukses, yaitu dengan mengkombinasi aspek : kebijakan (menjadi kesatuan kebijakan), mendorong peningkatan institusional/organisasional dari UKM sendiri dan membuat program pelayanan pengembangan UKM. Permasalahan pengembangan UKM yang belum focus dan berubah-ubah dengan berbagai pendekatan dan berbagai instansi yang terlibat menjadi tidak efektif, maka pemerintah harus menciptakan kebijakan yang terpadu dan mengatur kebijakan untuk lebih komprhensif dan terarah.
7. Advisor, atau konsultan
Hasil penelitian Bolton, menemukan tiga permasalahan utama yang dihadapi oleh UKM yang memungkinkan diselesaikan dengan pengadaan pelatihan dan konsultansi, yaitu :
a. Information gap, wirausahawan biasanya memiliki keterbatasan tentang informasi pasar dan permasalahan bisnis sehingga mungkin melakukan kesalahan pengambilan keputusan, konsultan dapat memberikan advis dalam hal proses penyaringan informasi sebagai bahan pengambilan keputusan.
b. Problem solving and technical capabilities, wirausahawan dalam perusahaan berbasis teknologi dapat menghadapi berbagai masalah termasuk kemampuan teknologi yang baru, peran konsultan dapat masuk sebagai pengarah pemampaatan peningkatan kemampuan teknis yang berkaitan dengan teknologi.
c. Learning gap, Permasalahan yang juga sering di hadapi oleh wirausahawan adalah proses pembelajaran, terutama berkaitan dengan transper pengetahuan kepada bawahan atau karyawan, peran konsultan dalam memberikan advis dalam pembelajaran sangat di perlukan, termasuk dalam menyelenggarakan pelatihannya.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
No comments:
Post a Comment