Topik-topik Lanjutan
Sistem Informasi
MANAGING DISASTER
RECOVERY PLAN
Oleh
Bhima :
Malcolm :
Muhamad Ridwan Putra : 1501156383
Joel :
ABSTRAK
Disaster
Recovery Plan (DRP) adalah suatu terminology yang sudah dikenal oleh
perusahaan-perusahaan dimana basis bisnisnya adalah teknologi informasi (TI).
Sekalipun demikian, metode DRP ini terkadang dilupakan oleh para professional
TI. Padahal metode DRP adalah salah satu aspek yang sangat penting dan
strategis. Pemahaman akan konsep-konsep pemulihan sangat penting dalam
perencanaan dan penerapan metode DRP. Dengan memahami konsep DRP maka dapat
dikembangkan solusi-solusi teknis dalam pemulihan bencana.
Kata
kunci : Disaster Recovery Plan
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bencana dapat terjadi kapan saja dengan
berbagai macam sebab. Demikian halnya dengan Indonesia yang kerap terkena
bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun yang disebabkan oleh kelalaian
manusia itu sendiri. Bencana dalam dunia IT adalah kejadian yang mengakibatkan
kegagalan sistem dan memberikan dampak yang membahayakan terhadap bisnis yang
dijalankan. Sektor swasta di Indonesia memiliki total lebih dari 85% critical
infrastructure yang perlu dilindungi. 50% dari organisasi yang pernah mengalami
kegagalan sistem akibat bencana, tidak akan bertahan hidup dan 90% nya akan
mati dalam 2 tahun.
Bagi dunia bisnis terjadinya bencana dapat mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit baik dari segi materi maupun immateriil. Untuk itu setiap perusahaan sebaiknya memiliki rencana berupa Disaster Recovery Planning (DRP) untuk mengatasi atau meminimalisir dampak negatif akibat terjadinya sebuah bencana. Disaster Recovery adalah perencaan untuk menghindari masalah dan kemampuan untuk menghadapi masalah ketika bencana berlangsung. Hal ini melibatkan kegiatan dan program yang dirancang untuk menghidupkan kembali suatu entitas. DRC harus menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan akan menghadapi bencana yang mungkin terjadi.
Akan tetapi, Manajemen perusahaan seringkali mengabaikan pentingnya implementasi DRP ini dengan berbagai alasan seperti kurangnya waktu dan sumber daya, kurangnya dukungan manajemen puncak, kurangnya biaya, terlalu banyak potensi bencana yang harus dipertimbangkan, kurangnya kepedulian terhadap akibat bencana bagi bisnis perusahaan, termasuk kurangnya pengetahuan mengenai DRP tersebut.
Dengan mengikuti workshop ini diharapkan para peserta mendapatkan pemahaman dan wawasan yang diperlukan tentang pentingnya dan bagaimana cara mengenmbangkan sebuah Disaster Recovery Planning di perusahannya masing-masing.
Bagi dunia bisnis terjadinya bencana dapat mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit baik dari segi materi maupun immateriil. Untuk itu setiap perusahaan sebaiknya memiliki rencana berupa Disaster Recovery Planning (DRP) untuk mengatasi atau meminimalisir dampak negatif akibat terjadinya sebuah bencana. Disaster Recovery adalah perencaan untuk menghindari masalah dan kemampuan untuk menghadapi masalah ketika bencana berlangsung. Hal ini melibatkan kegiatan dan program yang dirancang untuk menghidupkan kembali suatu entitas. DRC harus menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan akan menghadapi bencana yang mungkin terjadi.
Akan tetapi, Manajemen perusahaan seringkali mengabaikan pentingnya implementasi DRP ini dengan berbagai alasan seperti kurangnya waktu dan sumber daya, kurangnya dukungan manajemen puncak, kurangnya biaya, terlalu banyak potensi bencana yang harus dipertimbangkan, kurangnya kepedulian terhadap akibat bencana bagi bisnis perusahaan, termasuk kurangnya pengetahuan mengenai DRP tersebut.
Dengan mengikuti workshop ini diharapkan para peserta mendapatkan pemahaman dan wawasan yang diperlukan tentang pentingnya dan bagaimana cara mengenmbangkan sebuah Disaster Recovery Planning di perusahannya masing-masing.
1.2 Ruang Lingkup
1.
Memberikan
pemahaman tentang Disaster Recovery Plan
2.
Menjelaskan
pentingnya Disaster Recovery Plan
3.
Menjelaskan
Tahapan dalam pemulihan data
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah agar
para perusahaan bisa memahami dan menggunakan DRP sebagai prosedur untuk
mencegah / menyelamatkan fasilitas IT dan sistem informasi yang ada pada
perusahaan sehingga bisa meminimalkan adanya kehilangan data-data yang penting
bagi perusahaan.
1.4 Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1. Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media
internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam
penyusunan penulisan ini.
2. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan
menganalisis dan me-review perkembangan Disaster Recovery Plan yang ada di
Indonesia.
1.5 Sistematika Penulisan
BAB
I : Pendahuluan
Dalam
bab ini diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang
terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi
Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
BAB
II : Landasan Teori
Dalam bab ini akan menguraikan
teori atau konsep yang melandasi hal-hal yang terdapat dalam penelitian ini,
secara umum dijelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan kinerja
sistem informasi baik dikutip dari berbagai referensi maupun hasil riset yang
didapat.
BAB
III : Pembahasan
Dalam bab ini berisi hasil
penelitian yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dan manfaat yang
ditetapkan pada pendahuluan. Lalu menunjukkan bagaimana pemikiran atau
temuan-temuan diperoleh, menginterpretasikan temuan, dan mengaitkannya dengan
teori yang digunakan.
BAB IV : Penutup
Dalam bab ini penulis akan menarik beberapa kesimpulan
berdasarkan petunjuk dari buku-buku referensi, internet, dan seminar
teori-teori lanjutan sistem informasi serta saran yang mungkin akan diterapkan
untuk kemajuan perusahaan.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1 Disaster
Disaster
(bencana) didefinisikan sebagai kejadian yang waktu terjadinya tidak dapat
diprediksi dan bersifat sangat merusak. Bencana terjadi dengan frekuensi yang
tidak menentu dan akibat yang ditimbulkannya meningkat bagi mereka yang tidak
mempersiapkan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan timbulnya bencana.
Berbagai
bencana yang mungkin terjadi antara lain adalah:
·
Bencana
alam disebabkan oleh kondisi geografis dan geologis dari lokasi
·
Kebakaran
disebabkan oleh faktor lingkungan dan pengaturan sistem elektrik yang dapat
menyebabkan korsleting
·
Kerusakan
pada jaringan listrik disebabkan oleh sistem elektrik
·
Serangan
teroris disebabkan oleh lemahnya keamanan fisik dan non fisik data center
·
Sistem
atau perangkat yang rusak terkait dengan kesalahan manajemen pengawasan
perangkat
·
Kesalahan
operasional akibat ulah manusia
·
Virus
misalkan disebabkan oleh kesalahan pemilihan anti virus yang digunakan
2.2 Data
Data
adalah catatan atas kumpulan fakta.Data merupakan bentuk jamak dari datum,
berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan".
Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara
apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu
variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra.
2.2.1 Data Center
Pusat
data (Bahasa Inggris: data center) adalah suatu fasilitas yang digunakan untuk
menempatkan sistem komputer dan komponen-komponen terkaitnya, seperti sistem
telekomunikasi dan penyimpanan data. Fasilitas ini biasanya mencakup juga catu
daya redundan atau cadangan, koneksi komunikasi data redundan, pengontrol
lingkungan (mis. AC, ventilasi) dan biasanya dilengkapi dengan sistem
pengamanan.
2.3 Disaster Recovery
Center
Disaster
Recovery Center merupakan suatu fasilitas dalam perusahaan yang berfungsi untuk
mengambil alih fungsi suatu unit ketika terjadi gangguan serius yang menimpa
satu atau beberapa unit kerja penting di perusahaan, seperti pusat penyimpanan
dan pengolahan data dan informasi.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian BCP
dan DRP
BCP
membahas tentang membuat rencana dan menciptakan kerangka kerja untuk
memastikan bahwa bisnis itu dapat hidup dalam keadaan darurat, sedangkan DRP
membahas tentang proses pemulihan secara cepat dari suatu keadaan darurat
dengan dampak minimum pada organisasi.
3.2 Keterkaitan
Business Continuity Plan dan Disaster Recovery Plan
Business
Continuity Plan (BCP) dan Disaster Recovery Plan (DRP) berkaitan dengan bisnis
dengan tujuan mencegahan resiko dan melindungi infrastuktur dari serangan. BCP
mengenai pembuatan perencaan dan framework guna menjamin proses bisnis dapat
terus berlanjut dalam situasi darurat. Sedangkan DRP mengenai pemulihan cepat
dari situasi darurat atau bencana agar dampak yang dihasilkan dari bencana
tersebut hanya mempangaruhi organisasi atau perusahaan seminimum mungkin.
3.3 Cakupan BCP dan
DRP
BCP proses meliputi:
·
Penentuan Lingkup dan Rencana
·
Business Impact Analysis (BIA)
·
Pengembangan Business Continuity
Plan
DRP proses meliputi:
·
Proses Disaster Recovery Planning (DRP)
·
Pengujian Disaster Recovery Plan
·
Prosedur Disaster Recovery
3.4 Business Continuity Plan (BCP)
3.4.1 Pengertian BCP
·
BCP dirancang untuk melindungi
proses bisnis yang kritis dari kegagalan/bencana alam atau yang dibuat manusia
dan akibatnya hilangnya modal dalam kaitannya dengan ketidaktersediaan untuk
proses bisnis secara normal.
·
BCP merupakan suatu strategi untuk
memperkecil efek gangguan dan untuk memungkinkan proses bisnis terus
berlangsung.
3.4.2 Area BCP
Business Continuity Plan perlu melihat pada semua area
pengolahan informasi kritis perusahaan, termasuk --tetapi tidak membatasi pada
hal-hal berikut ini:
§ LAN, WAN, dan server
§ Telekomunikasi dan link komunikasi data
§ Workstation dan workspaces
§ Aplikasi, perangkat lunak, dan data
§ Media dan penyimpanan arsip
§
Tugas-tugas staf dan proses produksi
3.5 Proses Pengembangan BCP
1.
Penyusunan Policy
·
Identifikasi peraturan perundangan
yang mempersyaratkan perencanaan situasi darurat.
·
Penyusunan kebijakan penanganan
situasi darurat.
·
Mendapatkan persetujuan.
·
Mensosialisasikan policy.
2.
Analisa Dampak terhadap bisnis
·
Identifikasi sumber daya TI vital.
·
Identifikasi dampak gangguan dan
batas lamanya gangguan.
·
Menyusun prioritas pemulihan sumber
daya TI.
3.
Identifikasi mekanisme pencegahan
·
Implementasi mekanisme pencegahan.
·
Pemeliharaan mekanisme pencegahan.
4.
Pengembangan strategi pemulihan
layanan
·
Identifikasi metoda pemulihan.
·
Integrasi metoda dalam rancangan
arsitektur TI.
5.
Pengembangan rencana penanganan
situasi darurat
·
Dokumentasi strategi pemulihan
layanan.
6.
Uji-coba, pelatihan, dan latihan
prosedur darurat
·
Pengembangan target uji-coba dan
kriteria keberhasilan.
·
Perbaikan berdasarkan pengalaman/
permasalahan.
·
Pelatihan personil.
7.
Reevaluasi rencana penanggulangan
situasi darurat
·
Review dan update.
3.6
Pengertian Disaster Recovery Plan
Disaster recovery plan merupakan sebuah prosedur penyelamatan dan
pemulihan khususnya fasilitas IT dan sistem informasi yang berisikan
tindakan-tindakan konsisten yang harus dilakukan sebelum, selama, dan setelah
adanya kejadian (bencana) yang mengakibatkan hilangnya sumber daya sistem
informasi.
Menurut Brooks (2002:9) Disaster recovery plan merupakan rencana yang difokuskan pada
pengunaan IT untuk pemulihan kinerja sistem, aplikasi, atau sebuah fasilitas
komputer yang dijalankan dari suatu tempat yang berbeda (off-site)
ketika terjadi situasi darurat.
3.7 Fungsi DRP
untuk menyediakan
kemampuan atau sumber daya untuk menjalankan proses vital pada lokasi cadangan
sementara waktu dan mengembalikan fungsi lokasi utama menjadi normal dalam
batasan waktu tetentu, dengan menjalankan prosedur pemulihan cepat, untuk
meminimalisir kerugian organisasi.
Manfaat atau tujuan disaster recovery plan (DRP) bagi perusahaan :
§ Melindungi organisasi dari kegagalan layanan
komputer utama
§ Meminimalisasi risiko organisasi terhadap
penundaan (delay) dalam penyediaan layanan
§ Menjamin kehandalan dari sistem yang sedia
melalui pengetesan dan simulasi
§ Meminimalisasi proses pengambilan keputusan oleh
personal/manusia selama bencana.
3.8 Komponen DRP
·
Business Impact
Analysis, adalah bagian dimana suatu bisnis menganalisa sejauh mana kebutuhan
bisnis tersebut / ketergantungan terhadap penerapan dan penggunaan teknologi
informasi dalam menjalani kegiatan bisnis.
·
Risk Assessment, akan
diidentifikasi semua ancaman yang datang yang dapat menimbulkan suatu kerusakan
baik kerusakan fisik maupun logistic.dengan demikian dapat meminimalkan efek
kerusakan dari bencana yang akan datang.
·
Recovery Strategy,
mendefinisikan strategi pemulihan yang mencakup penyediaan fasilitas fisik
maupun teknologi pendukung.
·
Disaster Recovery
Organization, merupakan sebuah model dan struktur organisasi yang berwenang
dalam melakukan semua kegiatan pemulihan bencana.
·
Disaster Recovery Procedures,
merupakan prosedur-prosedur baku yang mengatur semua aktifitas sebagai respon
terhadap terjadinya bencana hingga pemulihan kembali system dan infrastruktur
teknologi informasi.
·
Disaster Recovery
Center, merupakan komponen terpenting dalam DRP yang mendefinisikan kebutuhan
serta spesifikasi teknis dari sebuah Disaster Recovery Center (DRC).
3.9 Tahapan
Disaster Recovery Plan adalah sebagai berikut :
1. REDUNDANT atau Dual Input POWER SOURCE
Siapkan power source yang memadai dan siap pakai serta bisa juga kita terapkan pada DUAL Input power ke UPS kita. Jika tidak ada Genset, kita juga bisa memanfaatkan Input sumber daya yang lain seperti tenaga Surya, dll.
a. Input Power dari PLN.
b. Input Power dari GENSET.
c. Input Power dari Power Source lain.
2. DUAL UPS atau Redundant UPS to PSU
a. UPS A
b. UPS B
Kita gunakan 2 UPS dengan Input Power Source yang berbeda untuk men-supply sebuah server yang memiliki dual Power Supply Unit. Tentunya ini berlaku untuk server yang punya 2 buah Power Supply Unit ( PSU ). Tujuannya adalah jika terjadi problem di salah satu Power Source maka Server juga masih bisa hidup dari Power Supply yang lain atau Power Source yang lain.
3. DUAL POWER SUPPLY UNIT ( per server )
a. PSU A dengan power input dari UPS A
b. PSU B dengan power input dari UPS B
Tidak semua Server memiliki fasilitas Dual Power Supply ini, jadi jika server kita memiliki dual Power Supply maka sebaiknya kita manfaatkan se-optimal mungkin.
4. LOCAL STORAGE RAID System untuk OS
RAID System ( Redundant Array of Inexpensive Disks ) adalah sekelompok harddisk yang berfungsi saling mengantikan / redundant untuk menjaga fungsional harddisk.
1. REDUNDANT atau Dual Input POWER SOURCE
Siapkan power source yang memadai dan siap pakai serta bisa juga kita terapkan pada DUAL Input power ke UPS kita. Jika tidak ada Genset, kita juga bisa memanfaatkan Input sumber daya yang lain seperti tenaga Surya, dll.
a. Input Power dari PLN.
b. Input Power dari GENSET.
c. Input Power dari Power Source lain.
2. DUAL UPS atau Redundant UPS to PSU
a. UPS A
b. UPS B
Kita gunakan 2 UPS dengan Input Power Source yang berbeda untuk men-supply sebuah server yang memiliki dual Power Supply Unit. Tentunya ini berlaku untuk server yang punya 2 buah Power Supply Unit ( PSU ). Tujuannya adalah jika terjadi problem di salah satu Power Source maka Server juga masih bisa hidup dari Power Supply yang lain atau Power Source yang lain.
3. DUAL POWER SUPPLY UNIT ( per server )
a. PSU A dengan power input dari UPS A
b. PSU B dengan power input dari UPS B
Tidak semua Server memiliki fasilitas Dual Power Supply ini, jadi jika server kita memiliki dual Power Supply maka sebaiknya kita manfaatkan se-optimal mungkin.
4. LOCAL STORAGE RAID System untuk OS
RAID System ( Redundant Array of Inexpensive Disks ) adalah sekelompok harddisk yang berfungsi saling mengantikan / redundant untuk menjaga fungsional harddisk.
3.10 10 langkah dalam menjalankan
Disaster Recovery Plan, Menurut Rosenberg (2006:4) yaitu:
1. Define key assets, threats and scenarios
2. Determine the recovery window
3. Defining recovery
solutions
4. Draft a disaster
recovery plan
5. Establish a
communications plan and assign roles
6. Disaster recovery
site planning
7.
Accessing
data and application
8. Document the disaster
recovery plan, in detail
9. Test the disaster recovery
plan
10. Refine and retest the
disaster recovery plan
3.11 Pemulihan data
Ø
Replikasi Data
·
sebuah proses yang
mengkopi isi data ke suatu lokasi remote baik yang berlangsung secara berlanjut
ataupun pada interval tertentu.
·
Akan menyediakan hasil
kopi data yang lengkap untuk tujuan Pemulihan Bencana.
·
Lokasi remote biasanya
merupakan secondary data center.
Ø
Metode Replikasi Data
1) Mode
Replikasi Synchronous
·
Memungkinkan pertukaran
data secara real-time.
·
Keseluruhan proses
penulisan pada disk sumber dan disk target harus selesai terlebih dahulu
sebelum beranjak ke transaksi operasional selanjutnya dan diberi acknowledge
untuk keduanya jika telah selesai.
·
Menyediakan recovery
yang konsisten dan lengkap untuk semua jangka waktu.
2) Mode
Replikasi Asynchronous
·
Memungkinkan pertukaran
data secara buffering dalam artian bahwa data akan diletakkan dalam sebuah
'penampung sementara terlebih dahulu, kemudian pada jangka waktu tertentu akan
direplikasi ke disk target.
·
Data yang direplikasi ke
disk target tidak membutuhkan acknowledgement agar penulisan transaksi
operasional pada disk sumber dapat berlangsung kembali.
·
Keuntungan dari mode
replikasi ini adalah efektivitas biaya
·
Kerugiannya adalah jika
suatu saat terjadi crash pada salah satu pihak dan data belum sempat
direplikasi maka data yang terdapat pada kedua pihak tidak bisa dikatakan
sebagai sebuah data yang sinkron.
3.12
Strategi Alternatif Data Processing
Ø
Melakukan duplikasi
terhadap fasilitas proses informasi. Ada komputer lain atau cadangan di lokasi
tertentu yang memiliki fungsi yang sama dan selalu diupdate sesuai dengan
transaksi yang berjalan.
Ø
Hot sites: Sepenuhnya
dijalankan oleh fasilitas operasi dan data alternatif yang dilengkapi dengan
perangkat keras dan perangkat lunak yang memadai selama dampak bencana masih
berlangsung. Cara ini penting untuk aplikasi yang kritical, namun biayanya
sangat mahal.
Ø
Warm site: Fasiltas
alternatif yang memiliki sarana yang lebih sedikit. Misalnya ada listrik,
jaringan, telepon, meja-meja, printer, tetapi tanpa komputer yang mahal.
Kadang-kadang ada komputer, tetapi less processing power.
Ø
Cold site: Fasilitas
yang memiliki prasarana penunjang untuk operasi komputer, misalnya ruangan yang
memiliki listrik dan AC. Tapi belum ada komputernya, namun siap dipasangi
komputer.
Ø
Perjanjian dengan
perusahaan lain (mutual aid agreement), yaitu bekerja sama dengan perusahaan
lain yang memiliki kebutuhan sistem komputer yang sama seperti pada konfigurasi
hardware atau software, atau kesamaam jaringan komunikasi data atau akses
Internet. Dalam kerja sama ini, ke dua perusahaan setuju untuk saling mendukung
bila terjadi bencana
Ø
Multiple Center: Proses
sistem dan data tersebar di masing-masing unit organisasi. Strategi ini hampir
sama dengan mutual aid agreement, namum dilaksanakan secara internal dalam satu
organisasi atau perusahaan, dan memerlukan regulasi atau standar internal yang
disepakati dan dipatuhi bersama.
Ø Out source: Organisasi melakukan kontrak dengan pihak ke tiga
untuk memberikan alternatif layanan proses backup.
3.13
Strategi Pemulihan Telekomunikasi
Ø
Network redundancy,
memiliki kapasitas yang lebih atau ekstra gate gateway.
Ø
Alternative routing,
menggunakan media komunikasi alternatif, mis. kalau sebelumnya antar cabang
menggunakan VSAT, maka dicoba alternatif menggunakan POST (plain old telephone
system), juga jaringan fiber optik yang memiliki 2 jalur routing.
Ø
Diverse routing,
menggunakan kabel duplikat, dan menjamin bahwa kabel-kabel tersebut memiliki
jalur/path yang berbeda. Kalau kabel-kabel tersebut berada pada jalur yang sama
persis, maka akan kena jenis ancaman yang sama.
Ø
Long haul network
diversity, sebuah recovery facility (off site alternate facility). Banyak yang
memiliki banyak jalur keluar ke beberapa penyelenggara jasa telekomunikasi. Hal
ini untuk menjamin tersedianya jasa telekomunikasi jika beberapa mengalami
crash.
Ø
Protection of local loop
(last mile circuit), menggunakan banyak metode akses komunikasi keluar, kalau
ada bencana di off site facility.
Ø Voice recovery, pemulihan sarana telekomunikasi terutama untuk
melakukan hubungan komunikasi suara, lewat telepon.
3.14
RPO (recovery point objective) dan RPO (recovery point objective)
RTO (Recovery Time Objective), adalah durasi waktu maksimal bagi
suatu organisasi untuk melakukan restorasi proses bisnisnya setelah terjadi
bencana (bencana alam, kebakaran, kerusakan sistem, dll), dalam rangka
menghindari konsekuensi yang tidak dapat ditolerir terkait dengan kelangsungan
bisnis organisasi tersebut.
RPO (Recovery Point
Objective), adalah maksimal rentang waktu kehilangan data yang dapat ditolerir
oleh suatu organisasi pada saat bencana terjadi. Nilai RPO berkaitan erat
dengan frekuensi penyalinan data backup (replikasi) dari sistem utama ke sistem
cadangan di lokasi DR ataupun pengiriman data backup (e.g. Backup Tape) ke
lokasi penyimpanan (offsite location).
3.15 Pemilihan lokasi DRP
·
Jarak dari Fasilitas
Utama; pilihlah lokasi yang tidak terlalu dekat dan juga terlalu jauh dari
gedung utama yaitu sekitar 30 kilo meter.
·
Potensi Risiko dari
Bencana: apakah lokasi tersebut juga memiliki risiko terkena bencana, carilah
tempat yang minim terkena ancaman atau dampak bencana.
·
Ketersediaan staff
setempat: apakah ada staff setempat yang bisa mengoperasikan proses bisnis
utama.
·
Ketersediaan dan
kualitas tenaga listrik/baterei; apakah tenaga listrik atau baterai tersedia,
dan apakah mencukupi untuk waktu lebih dari 27 jam.
·
Nearby Fiber Routes:
untuk kepentingan jaringan komunikasi data, alangkah lebih baik kalau tidak
jauh dari jarul kabel fiber, dan kalau memungkinkan kita bisa minta ijin atau
mendaftar menggunakan jalur kabel tersebut.
·
Specific IT Criteria;
Tehnologi informasi dapat berfungsi pada lokasi tersebut, batasan jarak harus
menjadi perhatian perlengkapan jaringan.
·
Tax Incentive; Lokasi
tertentu atau di luar perkotaan mungkin akan jauh lebih murah biayanya.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Disaster
Recovery plan adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi
kemungkinan dan membatasi kerugian akibat bencana pada proses bisnis yang
penting. Format dan elemen DRP bervariasi dari yang komprehensif untuk
perusahaan multi nasional dengan informasi, sekuritas, sistem informasi yang
kompleks, hingga DRP untuk perusahaan kecil. Dengan adanya DRP sebagai pedoman
untuk menghadapi bencana, maka perusahaan dapat menghadapi situasi kritis
akibat bencana dengan lebih baik dan terarah.
4.2 Saran
Bencana memang datang secara tiba-tiba
tetapi, ada baiknya bila kita mengerti akan cara menanggulangi bencana dan
mencegah akibat dari resiko yang diakibatkan oleh bencana tersebut, sehingga
kita bisa meminimalisir adanya kerusakan atau kehilangan data-data yang penting
bagi perusahaan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Disaster recovery site in combination with Backup can be an interesting solution when we want to create a system where data is not lost and recovery can be made simple and easy.
ReplyDelete